.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Upacara Nadar Dalam Upacara Pembuatan Garam di Sumenep (3)

Upacara Nadar Dalam Upacara Pembuatan Garam di Sumenep (3)

Unsur-Unsur Upacara Nadar dan Pemaknaannya
Upacara nadar dilaksanakan sebagai ungkapan terima kasih kepada Tu- han yang telah memberikan rezeki, yaitu panen garam. Pelaksanaan upacara tidak   terlepas  dari   tempat  upacara saat  upacara  benda-benda  dan  alat upacara, serta orang-orang yang melakukan dan memimpin upacara. Sejum- lah instrumen ritual disajikan secara khusus sehubungan dengan upacara itu. Instrumen  yang  digunakan  dalam  upacara  pertama  dan  kedua  sama,  yaitu bunga dan bedak serta kemenyan ditambah nasi dan lauk ayam, telur, serta bandeng. Bunga dan bedak digunakan untuk tabur bunga di makam leluhur. Hal ini sebagai simbol rasa terima kasih kepada leluhur, sedangkan kemen- yan  merupakan  parfum  atau  wewangian  bagi  arwah  leluhur.  Nasi  sebagai simbol rezeki yang dihasilkan para petani garam. Ayam merupakan binatang yang  bertelur  sehingga  masyarakat  menganggap  bahwa  ayam  merupakan simbol harapan supaya rezeki yang dihasilkan terus melimpah. Karena ayam yang disajikan utuh (pitik ndhekem) maka disebut ayam ungkul. Pemaknaan ini disesuaikan  dengan  kemiripan  bunyi  fonetisnya  dengan  tumungkul  (ter- capai  kehendak).  Telur  merupakan  perwujudan  rezeki  yang  dihasilkan  dan bandeng  merupakan  binatang  yang  hidup  di  tambak  begitu  pula  garam se- hingga hal ini sebagai simbol hasil panen.
Instrumen  pada  upacara  nadar  ketiga,  yaitu  nasi,  telur,  dan  bandeng. Semua  itu  diletakkan  di  atas  panjang  (piring  keramik  asing).  Simbol  dari nasi, telur, dan bandeng sama dengan upacara nadar pertama dan kedua. Pir- ing  keramik  ini  sebagai  simbol  tempat  menyimpan  rezeki.  Piring  keramik (panjang)  dikeluarkan  pada upacara ketiga karena sebagai simbol  menyim- pan  rezeki  dan  diharapkan  hasil  panen  terakhir  bisa  ditabung,  sedangkan pada panen pertama dan kedua hasilnya digunakan untuk makan dan kebu- tuhan sehari-hari. Naskah-naskah kuno yang dibacakan adalah naskah Sam- purna Sembah dan Jatiswara dan hanya bagian-bagian tertentu saja yang di- bacakan, yaitu yang isinya berupa ajaran-ajaran Islam sehingga dapat dijadi- kan  panutan  dalam  hidup  sehari-hari.  Tombak  dan  keris,  benda-benda  ini, mempunyai kekuatan gaib dan harus diperlakukan secara hati-hati. Keris dan tombak merupakan senjata yang mereka peroleh dari leluhurnya. Keris dan tombak sebagai simbol kekuatan supaya terhindar dari gangguan para lelem- but.
Upacara dilakukan pada hari Jumat yang dimulai pada sore hari sekitar pukul  16.00  WIB  karena  masyarakat  Sumenep  mayoritas  beragama  Islam.
Sebelum   upacar merek melaksanakan   Shala Juma terlebi dahulu. Dipilihnya hari Jumat karena hari tersebut dianggap hari baik dan suci.
Upacara nadar pertama dan kedua dilaksanakan di makam Syekh Angga Suto.  
Dalam upacara tersebut para pemuka adat utama sekitar 40 orang yang mengenakan  pakaian  adat  berupa  jubah  hitam.  Mereka  melakukan  upacara tabur bunga di makam leluhurnya di antaranya Syekh Angga Suto. Jubah hi- tam ini menyimbolkan keheningan atau kesedihan. Upacara tabur bunga di- lanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh pemuka adat pertama dengan memakai jubah putih. Jubah putih ini menyimbolkan kesucian.
Dalam upacara nadar ketiga, pembaca doa mengenakan pakaian khusus yang disebut racuk sewu. Wujudnya berlengan pendek dan divariasi dengan tembelan beberapa warna merah, coklat, dan bintik-bintik merah, hitam, dan krem. Pakaian ini menunjukkan bahwa orang Madura senang dengan warna- warna.  Warna-warna  tersebut  mempunyai  simbol  tersendiri.  Warna  merah sebagai simbol matahari yang menunjukkan adanya kehidupan. Warna cok- lat  sebagai  simbol  tanah  yang  kita  pijak.  Warna  hitam  sebagai  simbol musim penghujan. Secara logika warna hitam merupakan warna yang gelap sesuai  dengan  saat  cuaca  mendung.  Warna  krem  sebagai  simbol  musim kemarau.  Secara  logika  warna  krem  merupakan  warna  yang  terang,  dalam hal ini sama dengan keadaan alam pada saat musim kemarau. Bintik-bintik merah sebagai simbol musim pancaroba yaitu pergantian musim hujan dan kemarau. Secara logika warna bintik-bintik merah yang didasari warna hitam menunjukkan  bahwa  warna  matahari  merah  dan  warna  langit  mendung  hi- tam.
Fungsi Spiritual
Rangkaian kegiatan upacara nadar ini merupakan luapan emosi manusia untuk  mencari  keselamatan  dan  ungkapan  syukur  kepada  Tuhan.  Aktivitas ini bersifat religi. Semua aktivitas manusia yang bersangkutan dengan religi berdasarkan atas suatu getaran jiwa yang biasanya disebut emosi keagamaan (religious  emotion).  Emosi  keagamaan  ini  biasanya  pernah  dialami  oleh setiap manusia. Emosi keagamaan itulah yang mendorong orang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religi. Sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu  mempunyai  ciri-ciri  untuk  sedapat  mungkin  memelihara  emosi  kea- gamaan itu.
Dalam mencukupi kebutuhan hidupnya, masyarakat desa Papas, Sume- nep, Madura bekerja sebagai petani garam. Mereka melaksanakan berbagai pengetahuan tradisionalnya dalam mengungkapkan syukur atas panen garam maupun  menolak  bahaya  untuk  menyelamatkan  diri.  Upaya  tersebut  diwu- judkan melalui upacara nadar. Ritus atau upacara ini, dalam satu sisi meru- pakan upaya manusia untuk mencari keselamatan atau kepercayaan diri, dan
di sisi lain dapat berfungsi menjaga kelestarian kosmos. Manusia dianggap sebagai  replika  dari  makrokosmos.  Oleh  sebab  itu,  ia  harus  menjaga  ke- hidupan,  keseimbangan,  dan  keselarasan  dengan  mengadakan  ritus  atau upacara nadar.
Makrokosmos  terdiri  dari  komponen  yang  berifat  materi  (alam  kasad mata) dan nonmateri (alam ora kasad mata). Komponen bersifat materi ter- diri dari lingkungan sosial dan lingkungan fisik (tanah, gunung, laut, sungai). Komponen nonmateri terdiri dari alam kelanggengan (lingkungan gaib posi- tif),  yaitu  Tuhan,  roh-roh  halus  yang  baik,  dan  alam  lelembut  (lingkungan gaib negatif). Manusia berada di tengah dan harus menjaga dua komponen tersebut  (Moertjipto,  1987:56).  Salah  satu  cara  manusia  untuk  menjaga hubungan  antara  manusia  dengan  komponen  makrokosmos  adalah  melaku- kan selamatan. Keempat alam yang termasuk komponen makro-kosmos tam- pak seperti bagan berikut.

Konsep  keseimbangan  inilah  yang  menjadi  dasar  perilaku  manusia dala melaksanaka upacar ritua atau   selamatan.   Secara   vertikal, masyarakat desa Papas, Sumenep melakukan upacara nadar untuk mengung- kapkan rasa syukur kepada Tuhan dan memohon keselamatan. Hal ini juga untuk menjaga hubungan keselamatan dengan roh-roh halus yang berada di lingkungan  positif,  dan  menghindarkan  diri  dari  bahaya  yang  berasal  dari roh-roh jahat yang berada di lingkungan negatif.
Secara  spiritual,  upacara  nadar  berfungsi  sebagai  media  penghubung antara  manusia  dengan  kekuatan  lain  (supra  natural)  yang  ada  di  luar  diri manusia.  Upacara  merupakan  jembatan  antara  dunia  fana  dengan  dunia kekal. Upacara nadar merupakan medium yang menghubungkan diri manu- sia  dengan  supra  natural  agar  keselamatan  tercapai.  Keadaan  selamat  bagi manusia memiliki nilai penting karena dapat memberi ketentraman dan ke- bahagiaan  dalam  hidupnya.  Oleh  sebab  itu,  untuk  memperoleh  selamat manusia  harus  berorientasi  kepada  Tuhan  dan  bersikap  hormat  serta  tidak melupakan leluhurnya, dalam arti ia selalu bersikap dan berbuat baik sesuai dengan aturan-aturan Tuhan. Tindakan upacara nadar merupakan salah satu usaha manusia dalam mencari keselamatan dan ketenteraman.
Fungsi Sosial
Upacara  nadar  berfungsi  sebagai  media  sosial,  yaitu  dipakai  untuk mengutarakan pikiran, pesan, kepentingan dan kebutuhan hajat hidup orang banyak.   Pesan harapan,   nila ata naseha yang   disampaikan   melalui upacara itu mendorong masyarakat untuk mematuhi warisan dari para lelu- hurnya.  Selain  itu,  upacara  nadar  berfungsi  sebagai  media  interaksi  sosial atau kontak sosial antar warga masyarakat, seperti memasak bersama, ken- duri  atau  selamatan  dan  warga  masyarakat  berkumpul  bersama.  Dalam upacara ini masyarakat dapat saling memupuk gotong royong satu sama lain. Hal ini terwujud adanya kebersamaan, integritas, solidaritas, dan komunikasi antara warga masyarakat. Dengan kebiasaan tersebut, mereka menjadi saling tahu,  kenal,  bertegur  sapa,  bergaul  dan  menjalin  hubungan  baik  sehingga upacara tersebut bisa mengikat seseorang dalam kelompok sosialnya. Semua ini berkaitan dengan nilai-nilai dan norma yang mengatur hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya.
Upacara  nadar  juga  berfungsi  sebagai  norma  sosial  dan  pengendali sosial.  Dalam  pelaksanaan  upacara  nadar  diperlukan  adanya  sesaji,  yaitu nasi,  ayam,  telur,  bandeng,  bunga  bedak,  dan  kemenyan.  Sesaji  ini  merupakan norma atau aturan yang mencerminkan nilai atau asumsi apa yang baik dan apa  yang  tidak  baik  dalam  hubungannya  dengan  pelajaran  sehingga  dapat dipakai  sebagai  kontrol  sosial  dan  pedoman  berperilaku  bagi  masyarakat pendukungnya.  Dalam  simbol  terkandung  pesan  dan  nilai-nilai  luhur  yang ditujukan  pada  masyarakat  Papas  Sumenep  khususnya  para  petani  garam. Nilai,  aturan,  dan  norma  tidak  hanya  berfungsi  sebagai  pengatur  perilaku antar individu dalam masyarakat, tetapi juga menata hubungan manusia den- gan alam lingkungannya terutama kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Nilai  atau  makna  yang  terdapat  dalam  simbol  sesaji  upacara  nadar adalah salah satu mekanisme pengendalian sosial. Mekanisme ini sifatnya ti- dak  formal,  yaitu  tidak  secara  tertulis,  tetapi  hidup  dalam  alam  pikiran manusia,  diakui  dan  dipatuhi  oleh  sebagian  besar  warga  masyarakat.  Pen- gendalian ini bersifat positif karena berisi anjuran dan arahan sebagai pedo- man perilaku warganya sesuai dengan kehendak sosial atau masya-rakatnya. Apabila  dikaji  lebih  lanjut,  dibalik  upacara  itu  juga  termuat  nilai-nilai luhuyaitu  motif  menanamkan  budi  pekertserta  pengendali  sosial  bagi warga masyarakatnya. Motif-motif itu misalnya mengingatkan manusia pada kebesaran Tuhan Yang Maha Esa dan menghormati para leluhurnya. Nilai- nilai  luhur  adalah  penting  untuk  pedoman  perilaku  dan  kontrol  sosial  bagi warga masyarakatnya. Sebagaimana umumnya, masyarakat dapat terpelihara karena adanya pengendalian sosial yang mengatur pola tingkah laku warga masyarakat.
Simpulan
Dari uraian di atas, dapat dikemukakan tiga hal berikut.
1)  Masyarakat  desa  Papas,  Sumenep  Madura  melestarikan  tradisi  yang  di- wariskan  oleh  nenek  moyangnya.  Mereka  bekerja  sebagai  petani  garam dan  selalu  melaksanakan  upacara  nadar  pada  saat  panen  garam.  Dalam satu tahun garam dapat dipanen tiga kali, yaitu bulan Juni, Agustus, dan September. Pelaksanaan upacara dan sesaji yang dihidangkan sesuai den- gan  aturan-aturan  yang  telah  ada.  Upacara  nadar  ini  bertujuan  untuk menghormati para leluhur yang telah mengajarkan cara membuat garam dan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

2)  Nasib  baik  dan  buruk  manusia  telah  ditentukan  oleh  Tuhan,  termasuk dalam  hal  pekerjaan.  Begitu  pula  banyak  sedikitnya  panen  garam  telah ditentukan oleh Tuhan. Manusia hanya bisa berharap, doa, dan berikhtiar. Berikhtiar  tidak hanya bersifat lahir, tetapi juga bersifat batin yang ber- dimensi  spiritual  keagamaan.  Upacara  nadar  merupakan  dimensi  spiri- tual.  Upacara  nadar  tersebut  berfungsi  spiritual  karena  sebagai  media penghubung  antara  manusia  dengan  kekuatan  lain  (supra  natural)  yang ada di luar diri manusia. Upacara nadar merupakan jembatan antara dunia fana dengan dunia kekal. Upacara nadar merupakan medium yang men- ghubungkan diri manusia dengan supra natural agar keselamatan tercapai. Secara vertikal upacara nadar bertujuan untuk mengungkapkan rasa syu- kur  kepada  Tuhan  dan  memohon  keselamatan  serta  menjaga  hubungan keselamatan dengan roh-roh halus yang berada di lingkungan positif, dan menghindarkan  diri  dari  bahaya  yang  berasal  dari  roh-roh  jahat  yang berada di lingkungan negatif.
3)  Upacara nadar berfungsi sebagai media sosial, norma sosial, dan pengen- dali sosial.  Upacara  nadar  berfungsi  sebagai  media  sosial,  yaitu  dipakai untuk  mengutarakan  pikiran,  pesan,  kepentingan  dan  kebutuhan  hajat hidup orang banyak. Pesan, harapan, nilai atau nasehat yang disampaikan melalui upacara itu mendorong masyarakat untuk mematuhi warisan dari para leluhurnya. Upacara nadar juga berfungsi sebagai norma sosial dan pengendali  sosial.  Dalam  pelaksanaan  upacara  nadar  diperlukan  adanya sesaji yang merupakan simbol atau kode kebudayaan. Sesaji sebagai sim- bol  mengandung  norma  atau  aturan  yang  mencermin-kan  nilai  atau asumsi apa yang baik dan apa yang tidak baik dalam hubungannya den- gan pelajaran sehingga dapat dipakai sebagai kontrol sosial dan pedoman berperilaku  bagi  masyarakat  pendukungnya.  Dalam  simbol  terkandung pesan dan nilai-nilai luhur yang ditujukan pada masyarakat Papas Sume- nep  khususnya para petani garam. Nilai, aturan, dan  norma  tidak  hanya berfungsi  sebagai  pengatur  perilaku  antar  individu  dalam  masyarakat, tetapi juga menata hubungan manusia dengan alam lingkungannya teru- tama kepada Tuhan Yang Maha Esa.

0 komentar:

Poskan Komentar

katakan kata-katamu