.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Sekilas Mengenal Madura




Siapa tak kenal Madura. Berbagai konotasi plus minus kerap dilontarkan oleh orang-orang dari luar Pulau Madura. Konotasi plus, karena Madura memiliki keunggulan tradisi yang barangkali tidak dimiliki oleh etnik lainnya, dan bahkan fenomena kebudayaan Madura kerap menjadi obyek para peneliti untuk lebih mengenal tentang apa dan bagaimana Madura.

Sisi lain, konotasi minus masyarakat Madura, karena meiliki karakter “keras”, meski sebenarnya dipahami sebagai karakter “tegas”. Carok, premanis di kota-kota besar, dan selalu tampak menduduki usaha kelas ekonomi rendah, sehingga konotasi ini menjadi “bumerang” orang-orang Madura, meski dalam pemahaman keliru.

Secara geografis Madura merupakan gugusan pulau yang terletak diujung paling timur Pulau Jawa. Madura juga  di kenal sebagai daerah dengan alam yang tandus. Wilayah Madura terdiri dari sekitar tujuh puluh pulau lebih, dalam kesamaan memiliki budaya etnik, yaitu budaya Madura.

Karena karakteristik itulah, plus minus Madura, demikian gencar menjadi sorotan masyarakat luar, apalagi ketika terjadi kasus Sampit (perselisihan antara masyarakat etnik Madura dengan Dayak di Kalimantan pada tahun 2005), yang kemudian menjadi konflik yang benar-benar menyita pemikiran semua pihak, mengakibatkan “popularitas” Madura  semakin terangkat. Namun demikian Madura adalah Madura dengan plus minus yang justru menjadi kebanggaan masyarakat Madura sendiri.

Pulau Madura termasuk propoinsi Jawa Timur. Pulau ini terkenal sebagai pemasok garam nasional bagi Indonesia. Pilihan bertambak garam bagi penduduk Madura disebabkan kurang begitu suburnya tanah pulau ini bagi pertanian. Karena alasan serupa, banyak orang Madura menjadi perantau ke daerah-daerah lain di Indonesia. Komunitas Madura yang besar dapat ditemukan di sejumlah pulau di Indonesia, yang umumnya menempati wilayah-wilayah pesisir.



Kabupaten Bangkalan, adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura. Ibukotanya adalah Bangkalan. Kabupaten ini terletak di ujung paling barat Pulau Madura; berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Sampang di timur, serta Selat Madura di selatan dan barat.
Pelabuhan Kamal merupakan pintu gerbang Madura dari Jawa, dimana terdapat layanan kapal ferry yang menghubungkan Madura dengan Surabaya (Pelabuhan Ujung). Saat ini telah dibangun Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), yang kemudian menjadi jembatan terpanjang di Indonesia. Bangkalan merupakan salah satu kawasan perkembangan Surabaya, serta tercakup dalam lingkup Gerbangkertosusila.



Kabupaten Sampang, adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura. Ibukotanya adalah Sampang. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Pamekasan di timur, Selat Madura di selatan, serta Kabupaten Bangkalan di barat. Masakan khas kota ini adalah kaldu.



Kabupaten Pamekasan adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura. Ibukotanya adalah Pamekasan. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Selat Madura di selatan, Kabupaten Sampang di barat, dan Kabupaten Sumenep di timur. Pusat pemerintahan di Kecamatan Pamekasan.



Sumenep (bahasa Madura: Songènèb) adalah sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Madura. Ibu kotanya ialah Kota Sumenep. Sumenep memiliki sebuah keraton keluarga kerajaan Madura, Cakraningrat. Kabupaten Sumenep selain terdiri wilayah daratan juga terdiri dari kepulauan yang berjumlah 126 pulau. Pulau yang paling utara adalah Pulau Karamian yang terletak di Kecamatan Masalembu dan pulau yang paling Timur adalah Pulau Sakala, yang berdekatan Makasar (Sulawesi).

Sebagai etnik Madura, masyarakat Madura menggunakan bahasa ibu, yaitu bahasa Madura, yang masing-masing daerah (Madura barat, tengah dan timur) memiliki  pengucapan dialek yang berbeda, sebagaimana lazimnya etnik-etnik lain yang menggunakan bahasa ibu daerahnya. Namun demikian ada sebagian masyarakat Madura, yang tidak menggunakan bahasa Madura secara utuh, yaitu masyarakat kepulauan Kangean dan sekitarnya. Hal ini karena pengaruh dari suku/etnik lainnya; Bugis, Jawa dan Melayu, sehingga mereka menggunakan bahasa Kangean, yang kadang juga tidak dimengerti kata-kata bahasa tersebut oleh masyarakat Madura umumnya.

Beberapa catatan yang perlu dicermati, tentang siapa sebenarnya orang Madura?. Berikut beberapa pandangan hidup masyarakat Madura, yang juga menjadi titik acuan falsafah Madura.

Abantal omba’ asapo’ angen
(Berbantal ombak berselimut angin).

Menggambarkan sikap hidup dinamis dan enerjik dan tabah untuk menghadapi berbagai tantangn dan cobaan. Hidup harus dihadapi dengan kerja keras.

Abantal syahadat asapo’ iman
(Berbantal syahadat berselimut iman).

Oreng andhi’ tatakrama reya akantha pesse singgapun, ekabalan ja’a e dhimma bai paju.
(Orang yang punya budi pekerti yang baik itu seperti uang (emas) singapara, dibelanjakan di mana saja pasti laku).

Ta’tao Judanagara
(Tidak mengenal Judanegara)

Judanegara adalah seorang tumenggung di Madura yang sangat baik budi pekertinya, sehingga pantas dijadikan kaca kebbang (contoh teladan) bagi orang Madura. Orang yang disebut tidak mengenal (ajaran) Judanegara dianggap jauh dari sikap mulia, alias hina

Bila cempa palotan
Bila kanca taretan
(Setiap beras cempa itu ketan
 Setiap teman itu saudara)

Melukiskan bahwa teman (sahabat) harus diperlakukan sebagai saudara sendiri.

Mon ba’na etobi’ sake’ ja’ nobi’an oreng
(Kalau kamu dicubit merasa sakit jangan mencubit orang lain)

Ajaran di atas menyarankan supaya setiap orang mengerti perasaan orang lain. Sehingga ia harus memperlakukan orang lain dan menghormati orang lain agar ia dihormati orang lain.
Pote atena
(Putih hatinya)

Oreng jujur mate ngonjur
(Orang jujur kalau mati kakinya selonjor (lurus)

Oreng jujur bakal pojur
(Orang jujur bakal mujur)

Sabu keccet akopeyan
Somorra badha e dhaja
Tao lecek sakalean
Saomorra ta’ eparcaja.
(Sawo kecik berbotol-botol
Ada sumur sebelah utara
Pernah berdusta satu kali
Seumur hidup tak dipercaya).

Sapa atane bakal atana’
Sapa adagang bakal adaging
(Siapa rajin bertani akan menanak nasi
Siapa berdagang akan berdaging (tubuhnya padat dan sehat)

Ping pilu’
Ta’ endha’ nyampang lorongnga
Lorongnga tombuwi janggel
Ping pilu’
Ta’ endha’ ngala’ toronna
Toronna oreng ta’ bajeng
(Ping pilu’
Ku tak mau lewat jalan
Jalan itu ditumbuhi sampah jagung
Ping pilu’
Ku tak mau menerima keturunan
Keturunan orang yang tidak rajin bekerja)

Perreng odhi’ ronto biruna
Parse jenno rang-rang tombu
Oreng odhi’ neko koduna
Nyare elmo pataronggu
(Daun bambu hijau runtuh
Bibit kelapa jarang tumbuh
Orang hidup itu seharusnya
Mencari ilmu dengan sungguh).

Dan banyak lagi sejumlah contoh falsafah yang diangkat menjadi kearifan lokal Madura, dalam posting tulisan selanjutnya.

Selain itu, kekakayaan kesenian (baca; seni tradisi) masyarakat di Pulau Madura, menjadikan Madura “layak jual” sebagai konsumsi wisata. Berbagai bentuk seni tradisi yang berkembang di Madura merupakan hasil perkawinan dari berbagai unsur budaya dan telah mengalami proses evolusi. Walaupun berasal dari unsur animisme dan Hinduisme, dalam perkembangannya seni tradisional yang berkembang  lebih kental dengan unsur relegius islami. Hal itu tidak terlepas dari kiprah para da’i ketika memperkenalkan agama Islam pada masyarakat penganut paham lain. Melalui media yang telah ada, yakni kesenian para da’i memasukkan ajaran, anjuran serta ajakan membenahi kerusakan moral dan budi pekerti, mencari hakikat kebenaran, memahami makna hidup, membentuk manusia ber-kepribadian ataupun membentuk manusia ber-budaya.

Suramadu

Awal akan dibangunnya proyek jembatan Suramadu, yang membentang antara Surabaya dengan Pulau Madura, terjadi pro dan kontra. Sebagai kebutuhan vital jalan pintas media transportasi kedua wilayah tersebut, suka atau tuka, pro maupun kontra, pada akhirnya jembatan Suramadu telah membentang megah di selat Madura.

Apa dampak yang didapat bagi masyarakat Madura. Tentu, untuk mengupas hal ini dapat dibaca dalam posting blog ini, dari berbagai susudt, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan budaya, sastra, wisata, bahkan sejarah masing wilayah kabupaten di Pulau Madura. (Admin/Syaf Anton Wr)

0 komentar:

Poskan Komentar

katakan kata-katamu