.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Menikmati Pantai Rongkang Bangkalan


Berbagai potensi wisata tersebar di se-antero Bangkalan. Namun, tidak semuanya tergarap dengan baik, terutama wisata pantai. Saking butuhnya, hiburan pantai pun dimanfaatkan ala kadarnya. Tak peduli kurang sedap dipandang atau kurang fasilitas, pantai tetap menjadi tujuan wisata.

PADATNYA
pantai-pantai yang masih disuguhkan secara alami adalah fakta bahwa potensi wisata tersebut masih belum dikelola secara baik. Belum bisanya wisata pantai jadi tumpuan hidup masyarakat sekelilingnya juga membuktikan hal tersebut. Padahal, lokasi wisata selalu jadi tujuan perjalanan pelancong dari luar daerah. Umumnya perputaran uang di lokasi wisata juga sangat tinggi.

Pemandangan di ruas jalan Desa Kwanyar Barat, Kecamatan Kwanyar Minggu (27/9) ramai sejak pagi. Sayangnya tidak ada wajah "asing" di sepanjang jalan tiga meter itu. Mereka yang berkunjung di Pantai Rongkang hanya warga sekitar yang tahu akses mencapai pantai tersebut. Sebab, cukup sulit akses wisatawan menuju pantai ini jika bukan warga Labang, Tragah, Kwanyar atau Modung.

Warga sekitar mengatakan, pantai ini hanya dikunjungi banyak orang hanya setahun sekali. Yaitu, saat orang Madura pada umumnya merayakan Telasen Topa'. Selebihnya, pantai ini sepi. Tanpa hiburan, tidak ada orang jualan dan kerap kali dijadikan tempat "eksekusi" pasangan mesum. "Orang di sini sampai gerah melihat pantai ini dijadikan tempat begituan. Dilarang, nanti ada lagi dan begitu seterusnya," ujar Rifai, warga setempat yang ikut berjualan saat Tellasen Topa' tiba.

Menurut dia, di pantai itu juga kerap kali ditemukan mayat tak beridentitas. "Entah datang dari mana. Mungkin memang dibunuh lalu dibuang ke sini atau terdampar di pantai ini karena ombak yang membawanya," ujarnya. Syukur kejadian tersebut tak terjadi terlampau sering. Namun, tiap ada penemuan selalu menggemparkan warga.

"Padahal tempat ini sangat bagus. Lokasinya strategis, dekat Suramadu dan bisa memandanginya dari sini. Sayangnya, orang luar tidak tahu keberadaan pantai ini. Pemerintah juga tak pernah mencoba mempromosikan pantai ini jadi objek wisata," sesal Rifai.

Sementara itu, sebagian warga ternyata memandang pantai berbatu itu sebelah mata. Sebab, di pantai itu warga terlalu sering menemukan pasangan berbuat tidak senonoh. "Meski sering dipergoki warga, pasangan-pasangan lainnya tidak kapok juga. Kalau sudah sabtu minggu sampean bisa lihat sendiri," ujar Umar yang juga warga Kwanyar Barat.

Seringnya warga memergoki pasangan mesum di pantai membuat tokoh ulama di sekitar pantai itu ikut geram. Namun, ketidaksukaan tersebut tak membuat perbuatan mesum di wilayah pantai berhenti total. "Setiap hari itu ada saja yang sembunyi di karang-karang pantai untuk berbuat mesum. Saya sampai tidak habis pikir," sesalnya.
 
Sumber akses : http://portalmadura.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

katakan kata-katamu