.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Pantai Lombang : Membawa Kemakmuran Warga


Berdasarkan legenda masyarakat Sumenep. Pantai Lombang adalah kawasan gersang dan tandus, yang hanya memiliki hamparan pasir putih di sepanjang pantaimya.

Pada abad ke-18, sejumlah warga Cina yang eksodus akibat perang besar, dengan sejumlah perahunya, singgah di Pantai Lombang, untuk mencari air tawar di daratan. Ternyata warga Lombang menyambutnya dengan senang hati,sehingga pengungsi itu merasa aman.

Konon, warga Cina yang mendarat di Lombang adalah satu generasi dengan Law Kha Tie, buyut arsitek Masjid Jamik Keraton Sumenep, yang bernama Law Phia Ngo. Mereka, karena mendapatkan perlakuan baik warga Lombang, lalu memilih menetap di Dungkek, lima kilometer dari Pantai Lombang.

Perahu warga Cina, yang tiang-tiangnya ter-buat dari kayu darurat, ternyata banyak menggunakan batang cemara udang. Selama digeletakkan di pasir pantai, ternyata batang-batang itu bersemi mengeluarkan daun. Sejak itulah tanaman baru muncul di pantai itu dan menjadi kawasan hutan cemara yang berjejer di sepanjang bibir pantai, hingga mencapai 20 kilometer.

"Memang ajaib kehadiran cemara udang di Lombang, sebab di pantai mana pun di Madura, tidak ada yang punya ciri khas seperti Lombang," ujar Syaf Anton Wr, budayawan Sumenep.
Dari berbagai literatur, lanjut pegawai Kementerian Agama Sumenep itu, belum ditemukan jawaban yang pas. tentang asal-usul cemara udang di Lombang ini. Bahkan, di Indonesia, adanya hanya di Pantai Lombang.

Menurut Ahmad Fudholi, salah seorang pengepul cemara udang, warga Desa Lombang, hingga kini permintaan cemara udang dalam bentuk batang besar datang dari pedagang bonsai di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Cemara udang dengan batang besar memiliki tingkat keindahan yang mengalahkan tanaman hias apa pun, misalnya serut, palem, pinang, dan siwalan.

Batang-batang cemara udang terlihat tua dan memiliki serat kasar, mirip pohon hutan. Daunnya mudah ditata sesuai dengan keinginan pemiliknya dan usianya bisa mencapai 50 tahun.

Tiap minggu, Fudholi bisa mengirim cemara udang hingga sepuluh truk, dengan harga yang variatif. "Terendah saya jual Rp 5 juta, tapi ada yang sampai Rp 20 juta per pohonnya," ujar Fudholi. 

Sumber: http://bataviase.co.id

0 komentar:

Poskan Komentar

katakan kata-katamu