.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Cemara dan Pantai Lombang


Penyair Zawawi Imron sering ke pantai ini untuk mendapatkan inspirasi puisi.
Orang berduyun-duyun datang menyaksikan keindahan pantai ini. Pantai Lombang, namanya, mulai dikenal publik di era 1980-an. Pantai ini memiliki pasir putih, hutan cemara udang, dan keindahan gunung pasirnya.
Terletak di Kecamatan Batang-batang, Sumenep, Madura, tempat ini sering didatangi wisatawan yang tak hanya dari dalam negeri. Turis asal Jerman, Amerika Serikat (AS), Belanda, Korea, Jepang, Cina, dan negara lainnya, punpernah bermalam di Pantai Lombang. Mereka bersedia tidur di bangunan terbuat dari bambu dan beratapkan rumbia. Dengan senang hati mereka menikmati keindahan pantai di malam hari dengan alat penerang obor dan lampu teplok.

Pada dekade 1970-an, Pantai Lombang merupakan tempat penyair HD Zawawi Imron menyepi untuk mendapatkan inspirasi syair-syairnya. Pria yang hanya lulusan sekolah rakyat (SR) atau setingkat sekolah dasar (SD) itu mengaku puisinya yang bagus-bagus lahir ketika menangkap kesunyian alam Pantai Lombang.
Kecintaannya terhadap Lombang, membuat Zawawi membawa rekan-rekannya, seperti Emha Ainun Najib, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, menikmati Pantai Lombang. "Cinta saya terhadap Lombang bergelayut di daun-daun cemara udang. Saya serasa mendapat ruh baru dari pantai itu," ujar Zawawi.
Ia mengaku bangga sebagai warga Sumenep yang wilayahnya memiliki nilai lebih dibandingkan kota lainnya di Jawa Timur. Ia lalu mencontohkan tentang kelebihan itu, misalnya situs sejarah Masjid Jamik Keraton Sumenep, kompleks pemakaman keluarga Keraton Asta Tinggi, Keraton Sumenep, serta kawasan wisata Pantai Lombang dan Slopeng.

Pantai Lombang dikenal dari mulut ke mulut, ketika banyak wisatawan dari luar dan lokalberkunjung untuk menikmati keindahannya. "Saat itu Lombang masih perawan, pemerintah setempat belum menyentuhnya," ungkap Zawawi.

Dengan kondisi seperti itu, wisatawan yang akan mengunjungi pantai tersebut harus berjalan kaki untuk mencapai pantai, karena pohon cemara masih malang melintang sepanjang kurang lebih satu kilometer di gugusan gunung pasirnya. Selain menikmati pantai, para wisatawan juga tertarik pada keaslian pohon cemara udang (Casuarinab equesetifolia).

Banyak yang memesan pohon cemara ini untuk dibawa pulang. Akhirnya cemara udang menjadi komoditas bisnis yang tak terelakkan. Ribuan pohon cemara udang disetek dan dibawa ke beberapa kota besar dalam jumlah ratusan truk.

Akibatnya, ribuan pohon cemara udang besar, yang masih asli, ikut juga terangkut ke luar Madura. "Pengangkutan cemara udang dalam skala besar sudah berlangsung lama, sehingga yang tersisa kini hanyalah pohon generasi ketiga," papar Husein, pakar bonsai dari Malang.

Husein mengatakan, mengenal Lombang sejak awal 1980-an. Saat itu kawasan Pantai Lombang sangat magis dan eksentrik, karena perpaduan antara hutan cemara, pantai pasir putih, dan air lautnya yang bersih.
"Saya sudah melihat banyak pantai di Indonesia, tapi saya merasa takjub dengan Pantai Lombang " ungkap Husein.

Ia membandingkan dengan Pantai Kuta, Bali, yang kesohor ke mancanegera. Namun, jika dibandingkan dengan Pantai Lombang, Husein masih memuji Lombang. Sebab keistimewaan Lombang, memiliki garis bentang pantai yang panjang dan mencapai sekitar 20 kilometer, sehingga membuat wisatawan bisa memilih tempat bersantai dengan leluasa.

Ombaknya yang relatif kecil dan lautnya yang tidak terlalu dalam sampai radius satu kilometer, membuat wisatawan berani menceburkan diri. Pantai ini juga sangat bersih dari sampah laut dan kehadiran warga setempat, karena jauh dari perkampungan asli warga Lombang.

Pria yang juga kolektor bonsai cemara udang itu menambahkan, jika tidak ada yang peduli, maka Pantai Lombang akan rusak dan ditinggalkan wisatawan. Sebab, sejumlah pantai di luar Madura, kini telah gencar menanam cemara udang. Misalnya Pantai Parangtritis di Yogyakarta dan Pantai Pangandaran di Jawa Barat, sudah berhasil menghijaukan pantainya dengan cemara udang asal Pantai Lombang. Pohon cemara udang selama ini menjadi ciri khas Pantai Lombang. kl, ed priyanto

0 komentar:

Poskan Komentar

katakan kata-katamu