.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Manusia Berpendidikan & Manusia Berbudaya


Ada beberapa ahli yang mengang gap bahwa konsep manusia berpendidi kan dan manusia berbudaya sama ar tinya, bahwa manusia yang berpendidi kan adalah manusia yang berbudaya. Rumusan ini benar karena lahir dari pe ngertian bahwa pendidikan adalah aspek dari kebudayaan. Dengan demikian se seorang yang telah berkem bang sesuai dengan kebudayaannya adalah orang yang juga memperoleh pendidikan yang bertujuan sama de ngan perkembangan pribadi di dalam kebudayaan di mana pendidikan itu berlangsung.

Sebenarnya konsep tentang kedua nya dapat kita bedakan, walaupun ke duanya tidak bisa kita pisahkan. Manu sia berpendidikan (Educated Man) se ringkali diartikan sebagai manusia yang telah berkembang kemampuan intelek tualnya karena factor pendidikan (Se kolah). Pengertian yang populer ini ju ga disebabkan oleh adanya budaya pen didikan yang intelektualis, semisal per kembangan tehnologi yang sedemikian canggih, sehingga pemakaian komputer dan internet telah meram bah di segenap ranah kehidupan manusia. Tidak ada lagi batasan ruang, waktu dan objek yang diperlukan, karena semua kebutuhan in formasi dengan sangat mudah diperoleh dalam hitu ngan menit. Semuanya mi bisa dilaku kan hanya bagi mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan akademis (sekolah) yang kompatibel.

Manusia yang berbudaya adalah se seorang yang menguasai dan berprila ku sesuai dengan nilai-nilai budaya, khu susnya nilai-nilai etnis dan moral yang hidup dalam kebudayaan masyarakat. Seseorang yang berpendidikan tinggi dan luas, namun hidupnya tidak bermo ral maka orang yang demikian dianggap orang yang berpendidikan tetapi tidak berbudaya.

Seseorang yang mempunyai sifat gentleman atau lady adalah seorang yang mempunyai sopan santun di dalam melaksanakan nilai-nilai pergaulan yang dihormati di dalam masyarakat. Sudah tentu seorang gentleman atau lady juga seorang yang memperoleh pendidi kan yang didasarkan kepada nilai-nilai gen tleman atau lady, yang dilaksanakan da lam pendidikan sekolahnya , yang lebih menekankan kepada aspek-aspek sopan santun, tahu menempatkan diri, menghormati wanita dan orang yang dituakan, berpengatahuan luas, mengakui kelebihan orang lain dan diri sendiri, termasuk sikap sportif. Nilai-nilai praktis inilah yang diyakini dan harus dipraktekkan oleh seseorang yang gentleman atau lady
.
Rumusan tentang tujuan pendidikan yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 menyatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Dalam arti mengembangkan seluruh aspek pribadi yaitu iman dan takwa kepada Tuhan, budi pekerti yang luhur, penguasaan pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi dalam kemasyarakatan dan kebangsaan. Jadi konsep tentang mengembangkan manusia Indinesia seutuhnya sesungguhnya merupakan pengertian yang sangat kompleks. Selain itu pendidikan tidak mungkin dapat mengembangkan selumh potensi yang ada pada manusia, karena masing-masing individu mampunyai potansi yang berjenis-jenis dan yang bermakna bagi masing-masing individu.

Jadi pengertian yang konkrit tentang pengembangan manusia Indonesia seutuhnya adalah memberikan kesempatan kepada semua manusia Indonesia untuk dapat mengembangkan potensinya sehingga dia dapat memberikan sumbangan kemampuan yang telah dikembangkan secara mandiri dan mantap. Pribadi yang mantap dan mandiri ini adalah pribadi yang berkembang di dalam masyarakat yang berbudaya. la hams mengenal dan mewujudkan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat sekitamya, masyarakat bangsanya.

Dia tidak menjadi beban bagi orang lain malahan dapat memberikan sumbangan bagi kesejahteraan masyarakat di mana ia hidup. la harus mempunyai keterampilan yang bisa dikaryakan untuk kepentingan dirinya sendiri dan masyarakatnya. Sebab hanya dengan denikianlah dia bakal mempunyai rasa tanggung jawab untuk masyarakat dan bangsanya.

Apabila di dalam analisis para ahli pendidikan menganggap bahwa pendidikan nasional kita masih terpisah dari kebudayaan, adalah memang benar adanya. Pendidikan nasional telah teralienasi dari kebudayaan nasional. Pendidikan nasional di era refotmasi ini periu ditemukan kembali (Reinvention) formatnya. Artinya meiierrtpatkail kembali pendidikan nasional di dalam konteks kebudayaan nasional Indonesia. Dengan demikian konsep mengenai manusia Indonesia seutuhnya mempakam manusia Indonesia yang berpendidikan dan sekaligus berbudaya.

Oleh karenanya praksis pendidikan nasioanal hamslah memenuhi kriteria di bawah ini:

  1. Praksis pendidikan nasional harus dan perlu mengembangkan potensi intelektual manusia Indonesia secara umum serta kaitan kemampuan tersebut dengan kehidupan nyata dalam lingkungan yang semakin meluas dan mendalam yaitu lingkungan keluarga, masyarakat lokal, lingkungan pekerjaan, lingkungan kehidupan nasional dan global

  1. Pendidikan nasional hamslah berperan dalam mengembangkan potensi yang spesifik dari individu sesuai dengan potensi kepribadiannya. Dengan demikian sistem pendidikan nasional hamslah mempunyai spektmm yang luas sehingga dapat menampung kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik secara individual.

  1. Pendidikan nasioanal harus dan perlu mengembangkan sikap sopan santun dalam pergaulan bermasyarakat. Nilai-nilai kebudayaan yang mengatur sikap sopan santun tersebut perlu dikenalkan dan dilaksanakan oleh peserta didik, mula-mula di lingkungan keluarga, sekolah, dan kemudian di dalam masyarakat luas. Di dalam kaitan ini pendidikan budi pekerti di lembaga-lembaga pendidikan (Sekolah) perlu digalakkan. Selain itu lingkungan sekolah merupakan lingkungan dan suasana yang dihidupi oleh nilai-nilai sopan santun yang dijunjung tinggi dalam kebudayaan nasional.

  1. Praktis pendidikan di semua lembaga pendidikan adalah mengem bangkan manusia Indonesia yang bermoral dalam tingkah laku, bersum ber dari kebudayaan nasional serta iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam kehidupan bermasya rakat dan berbangsa sehari-hari

  1. Praktis pendidikan di semua jenis dan jenjang pendidikan harus dan perlu mengembangkan rasa kebangsaan Indonesia, rasa bangga menjadi orang lndonesia yang berbudaya kebangsaan Indonesia, tanpa terperangkap dalam budaya plagiat yang sempit. Istilah praksis itu sendiri di populerkan oleh teoritisi sosial berkebangsaan Prancis Pierre Bourdien, yang menyatakan bahwa masyarakat dan budaya dibangun oleh pribadi-pribadi yang kreatif melalui karya dan bicaranya sehingga kreasinya bersifat nyata alamiah dan bukan hasil lamunan yang abstrak.

0 komentar:

Poskan Komentar

katakan kata-katamu