.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Dibalik Eksotisme Madura


Pada tahun 2005 kemarin, Ben Muhalif, seorang peneliti pada majalah Nationwide yang berkantor di Jakarta, menyelusuri Pulau Madura untuk mengetahui lebih dekat eksotisme pulau ini. Dia sangat terkagum-kagum pada potensi obyek wisata di Madura sekaligus ke eksotisannya, Hasil dari penelitiannya itu dimuat dalam salah satu majalah vip di Jakarta itu
.

Dalam tulisannya yang bergaya lugas dan polos, saya baca, di dalamnya peneliti itu memuji-muji Madura. Madura adalah mutiara yang terpendam, katanya. Madura kaya akan obyek wisata berupa pemandangan alam yang bagus dan mengagumkan, di samping kebudayaan yang unik.


Di antara banyak kebudayaan Madura yang menonjol dan layak jual di ranah international adalah Kerapan Sapi, Sapeh Sonok, Nyaketen, dan lain-lain. Sedangkan panorama alam madura yang indah dapat kita temui di Pantai Lombang, Badur, Slopeng dan lain sebagainya. Ditambah lagi obyek wisata yang berupa goa bersejarah, keraton, asta atau makam para penyebar agama Islam dan wali, keajaiban alam seperti Aeng Panas, Api Tak Kunjung Padam, dan masih banyak yang lain.

Bahkan, Liek Mansur Noer mengatakan bahwa Madura adalah serambi Madinah. Term Madinah ini diasosiasikan dengan suatu komonitas kota yang memiliki peradaban tinggi. Seperti Madinatun Nabi, sebuah kota yang memiliki peradaban agung yang didasarkan pada sendi-sendi agama. Demikianlah Madura. Sehingga tidak heran ketika Madura menjadi Pulau Seribu Pesantren. Oleh karenanya masyarakatnya sangat religius.


Apa yang diungkap Ben benar adanya. Namun, apa yang dilihat Ben itu hanyalah bentuk luar dari Madura. Sedangkan bagian dalamnya, Madura sesungguhnya bergelimang nestapa yang sangat dalam. Dia tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi dalam relung kebudayaan Madura yang kata orang sangat eksotis itu. Budaya yang membawa nestapa itu merupakan realitas hakiki yang selalu berkelindan di balik eksotisme budaya Madura yang indah itu

Sebagaimana teori dramaturgi Goffman yang pernah dikutip Putra (Kompas, 31/12/2005), terdapat dua hal dalam realitas panggung, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian yang hakiki adalah bagian belakang. Bagian depan hanyalah tempat pertunjukan untuk membahagiakan penonton belaka. Begitu juga halnya budaya setiap masyarakat, tak terkecuali budaya masyarakat Madura.

Bertolak pada teori Goffman ini, realitas budaya Madura dan keadaan alamnya yang sangat potensial sebagai obyek wisata merupakan realitas panggung bagian depan. Ini bisa terlihat dan dirasakan oleh seorang peneliti yang menelisik pulau garam ini dalam waktu tiga-empat hari dan hal ini juga dapat dilihat dari balik kaca penginapan di mana sang peneliti menghabiskan waktu untuk beristirahat.

Tapi akan beda halnya jika kita ingin mengetahui panggung budaya bagian belakang yang hakiki itu. Untuk mengetahui ini tak cukup hanya dengan waktu satu-lima hari. Jika Benmau berlama-lama di Madura, maka ia akan menemukan panggung bagian yang nyata itu


Sedikitnya ada dua (yang dapat diungkap dalam tulisan ini) nestapa di Madura. Keduanya dapat diketahui melalui narasi non fiktif  sebagai berikut : pertama, kisah Fitria. Dia adalah seorang gadis cerdas yang dilahirkan di sebuah kampung pedalaman Madura. Tingkat pendidikannya sampai SLTA. Pada usia 18 tahun sebenarnya dia masih ingin meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi (PT), namun ia tidak dapat menolak desakan orang tuanya untuk menerima lamaran seorang pemuda yang dicintainya. Kalau dia menolak, menurut orang tuanya, berarti ia telah tidak berbakti lagi kepada mereka. Lagi pula, seorang gadis yang telah mencapai usia 17 ahun ke atas masih belum memiliki tunangan dan atau menikah maka para tetangga di sekitarnya akan mengoloknya sebagai perawan tua yang tak laku-laku

Dengan persepsi umum sebuah komunitas masyarakat tersebut, sebuah keluarga akan malu jika punya anak gadis yang telah “cukup umur” masih belum menikah atau paling tidak bertunangan.

Kedua, cerita tentang Musappat. Dia adalah orang biasa, bertani, memelihara atau beternak sapi atau kambing sebagaimana orang kebanyakan di sekitarnya. Dia baik hati. Suka membantu, menolong, bergaul, dan rasa persaudarannya sangat kuat. Namun apa yang terjadi ketika ada sesuatu yang menyinggung perasaannya ? Seperi juga orang-orang kebanyakan di sekitarnya, dia akan menantang carok pada siapa saja yang telah menyakiti hatinya. Bahkan setelah terjadi carok, antara dua orang yang bergumul tidak akan segan-segan saling membunuh satu sama lain. Peristiwa seperti itu sudah biasa. Artinya, tindakan kekerasan yang biasanya menggunakan celurit ini bukanlah hal yang tabu


Di pulau Madura, carok mendapatkan legitimasi secara kultural. Di mata mayoritas orang Madura, carok bukanlah hal yang patut dipolisikan. Carok adalah hal yang sah-sah dan wajar-wajar saja terjadi ketika ada pertikaian. Bahkan pelaku carok yang memenangkan pertarungan bukan dicap sebagai pembunuh, melainkan sebagai ksatria hebat yang dengan itu strata sosialnya dapat semakin tinggi. Oleh karena itu, tidak heran katika seorang jago dalam carok akan sangat disegani.
Pemicu carok ini paling banyak adalah sakit hati karena diganggu istri dan attau anak putrinya oleh orang laki-laki, utang piutang, masalah warisan, salah paham, dan lain sebagainya. Sebagaimana yang ditunjukkan data dari Kepolisian Resort Bangkalan Tahun 1994, latar belakang terjadinya carok yang terjadi di Madura (khususnya di Bangkalan) ini biasanya dilatar belakangi oleh paling banyak pertama (50,9%) karena gangguan terhadap istri; karena salah paham (24%); tanah harta warisan (7,5%); utang piutang (9,4%); dan lain-lain (7,5%). Jumlah kasus pada tahun tersebut sebanyak 207 kali

Ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah yang ada dipulau ini sangat diperlukan peranannya dalam persoalan ini. Para steakholder dari organisasi tersebut harus betul peka dalam menghadapi isu-isu seperti itu. Hal itu perlu dilakukan juga dalam rangka mengawal Madura pasca pembangunan jemabatan Suramadu

0 komentar:

Poskan Komentar

katakan kata-katamu