.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Tradisi Mantenan di Giligenting Sumenep

Posted by : Syaf 02- Apr- 2011
Tradisi mantenan (perkawinan) telah ada sejak dahulu hingga sekarang bahkan sampai masa masa selanjutnya. Hal ini tak akan pernah pudar selagi bumi masih berputar dan manusia terus lahir laki laki dan perempuan, bisa di bilang kisah dalam sejarah mantenan telah teraplikasi dari para leluhur kita adam dan hawa.

Mantenan atau dalam bahasa masyarakat giligenting (ghabay) entah itu dilaksanakan secara sederhana maupun secara mewah mewahan (ghabay raje) tradisi seperti ini sudah lazim terjadi di perkotaan maupun di desa desa pedalaman, tradisi mantenan ini khususnya bagi masyarakat giligenting di jadikan sebagai momen untung untungan, tidak beda halnya dengan sebuah arisan, yang tak lain sama halnya untuk memperoleh nilai materi semata. kata orang giligenting 'mangantane ana' seolah olah anak di jadikan kedok untuk mendapatkan tambahan materi,padahal inti dari sebuah mantenan adalah mengharap doa dan barokah atas kelangsungan perkawinan mempelai berdua.

Namun kenyataanya cara pandang masyarakat berubah dengan memprioritaskan penarikan penarikan dari para undangan yang berupa materi, barang, atau jasa. (otang tengka) dan lagi tradisi mantenan yang terjadi masyarakat giligenting acara mantenan kerap kali membuat masyarakat giligenting panik dan trouma karena acara mantenan kerap kali di laksanakan di bulan syawal.

Karena menurut mereka khususnya bagi masyarakat yg merantau, pada bulan syawal adalah bulan berkumpulnya masyarakat giligenting, setelah setahun lamanya menetap di perantauan di saat hari raya idul fitri tiba masyarakat giligenting berbondong bondong untuk pulang kampung,

Dari situlah sehingga menurut mereka bulan syawal adalah bulan yang sangat tepat untuk mangantani ana', tapi bagi masyarakat kecil yang khususnya menetap di giligenting yang provesinya hanya sebagai petani, ini merupakan suatu beban yang sangat menghimpit mereka. bayangkan saja setiap bulan syawal kadang kadang sampai puluhan keluarga yang menyelenggarakan mantenan (mangantani ana') seperti yang di ulas di atas kebiasaan masyarakat giligenting mantenan identik dengan penarikan penarikan (tengka) umpama satu mantenan itu masyarakat harus mengeluarkan materi atau uang sebesar 50 rebu seumpama untuk 10 mantenan sudah 500 ribu tapi bagi yang punyak utang (otang tengka) 500 ribu otomatis yang harur di kembalikan adalah 500 ribu juga kan.

Nah untuk dari itu penulis berharap kebiasaan kebiasaan atau tradisi seperti ini harus di tindak lanjuti, saya berharap partisipasi masyarakat untuk tidak melaksanakan kebiasaan kebiasaan atau praktek praktek yang sangat membebani dan sangat menyengsarakan masyarakat kecil, demikian harap penulis.... yah paling tidak mencari bulan lain selain bulan syawal.

0 komentar:

Poskan Komentar

katakan kata-katamu