.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Seni Tradisi Madura Sebagai Penetrasi Budaya Global

Karakteristik budaya etnik Madura dalam konstelasi kebudayaan Nasional, memiliki ciri dan warna yang barangkali “jarang” dimiliki kebudayaan daerah lainnya, fenomena ini dapat dibuktikan dari penyebaran Etnis Madura di berbagai pelosok Indonesia masih tetap mempertahankan nilai-nilai budaya ke”madura”annya. Meski sebenarnya berhadapan dengan berbagai ragam budaya dimana mereka hidup dan berkembang

Warna lokal (baca; Madura) yang demikian melekat di du tengah masyarakat merupakan kontribusi yang menjadi kekentalan ciri khas warga Madura. Warna keetnisan inilah yang memungkinkan Madura menjadi simbol dan memiliki berbagai konotasi dengan berbagai penilaiannya.
Kalangan urbanism dan yang exodus ke luar Madura dalam kurun waktu yang cukup panjang menjadi pembenaran adanya suatu sikap dan perilaku Madura, sebagai mana terlihat di berbagai wilayah Nusantara ini.

Identitas Madura Melalui Seni Budaya Lokal
Seni budaya Madura merupakan unsur kebudayaan masyarakat Madura yang hidup dan berkembang selaras dengan perubahan-perubahan masyarakatnya. Berbagai ragam kesenian yang tumbuh di masyarakat merupakan kesepakatan yang tidak dapat ditolak untuk menjadi perangkat budaya masyarakat setempat. Dan pada gilirannya, seni yang hidup di Madura menjadi tradisi dan mengikuti dalam tatanan kehidupan masyarakat. Dalam masyarakat tradisional, kesenian (tradisional) merupakan bagian penting dari proses kehidupan masyarakat, dengan berbagai ragam, maksud dan tujuan, sehingga seni budaya menjadi “patokan” keberadaan keetnisan Madura.
Sebagai contoh warna seni budaya Madura dalam bentuk kesenian yang pernah dan atau yang masih hidup misal : Seni Teater: Topeng, Dalang, Ketoprak (Ludruk), Seni Musik: Saronen, Musik Ghul-ghul, dan jenis lainnya; Seni Suara/sastra : Macopat, Tembang Gending, Diba’, Samman, dst; Seni Tari: Tayub, Muang Sangkal, Ghambuh, Duplang dsb. , Seni pertunjukan yang menggabungkan semua unsur dan mengarah pada proses ritual, sebagai misal: Ratep, Sandur, Dammong, Sintung, Pangkah’ Ojung dst; sedang penghayat seni misalnya : penari, pesinden, kerapan sapi, sapi sape sono’, sap-sap ajam, dalang topeng, pangeas, mamajir, paneges, dst. Dan contoh-contoh dalam bentuk situs kepurbakalaan yang bertebar di beberapa pelosok Madura.
Dalam perubahan transformasi budaya global yang pada akhirnya menyentuh pada tatanan kehidupan tradisi masyarakat Madura, infra struktur yang bergerak melalui kesenian telah menjadi wilayah yang kurang menguntungkan bagi suatu kepentingan budaya lokal. Hal ini karena perubahan sosial budaya menjadi perubahan dalam struktur sosial dan pola-pola hubungan sosial.
Struktur sosial yang dibentuk oleh status individu di dalam “hirarki prestise masyarakat” dalam suatu kelompok atau masyarakat, menyebabkan terjadinya perubahan status kelompok sosial itu sendiri. Sedangkan status kelompok menempati posisi dalam hirarki prestise dari suatu masyarakat.
Status tidak bisa terlepas dari peran, karena status merupakan aspek statisnya, sedangkan peran atau perilaku individu merupakan aspek dinamisnya. Peran diartikan sebagai pola kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan, keyakinan, kepercayaan, sikap perasaan, nilai, tingkah laku yang oleh anggota masyarakat diharapkan menjadi ciri dan sifat individu yang menduduki posisi tertentu (Krech, et., 1962:338). Status dan peran saling berpengaruh.
Dengan terjadinya perubahan-perubahan itulah status dan peran yang terjadi pada masyarakat (secara individual atau kelompok) Madura mengalami “kegoncangan” budaya, sehingga perhatian dan apresiasi terhadap kesenian lokal makin kurang menguntungkan.
Perubahan ini tidak hanya tampak dalam skalanya saja, akan tetapi juga ditengarai ada dalam empat ikhwal, berikut ini : (1) meningkatnya mobilitas manusia, dana, kapital dan informasi serta tema-tema permasalahan (isu) melintas disembarang perbatasan; (2) kian terbebaskannya manusia dari ikatan-ikatan lain yang menekan (berdasarkan tradisi), dan gantinya kian marak ikatan yang berpangkal dari kehendak-kehendak bebas manusia; (3) terjadinya banyak perubahan dan pembaharuan, dan (4) kian berlanjutnya heterogenitas dan pluraritas masyarakat, baik dalam berbagai tampilan fisik maupun dalam isi alam pikirannya.

Kemungkinan Menjadi Penetrasi Budaya Global
Era globalisasi ditandai dengan perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat, dengan ditemukannya perangkat teknologi canggih yang berkembang seperti sekarang ini memungkinkan manusia memperoleh dan menangkap informasi secara cepat dan instan. Konsekuensi logisnya, budaya global tidak dapat ditawar lagi untuk menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari.
Dalam kondisi semacam ini tidak dapat dilarang lagi ketika anak-anak setiap hari berkomunikasi dengan teknologi seraya menikmati berbagai jenis kesenian dari Jepang atau Amerika. Melarang anak untuk menonton televisi justru menjadikan anak tidak siap untuk berkompetisi pada tatanan transnasional. Televisi sebagai wacana budaya, dapat membuat kita jadi sadar akan kekurangan yang ada pada diri kita.
Tetapi globalisasi bukanlah segala-galanya. Selain akan terjadi globalisasi secara bersamaan, budaya-budaya lokal tetap diharapkan menjadi benteng berpijak untuk melangkah pada percaturan transnational.
Kita tidak tahu lagi, apakah kita orang Madura, orang Jawa, orang Jepang atau dari suku benua lainnya; apabila berada di atas dataran budaya global. Dalam posisi seperti ini barangkali (etnis Madura) tidak dapat berbuat lain, kecuali melakukan “perlawanan” secara moral dengan tetap mempertahankan dan menjunjung nilai-nilai yang menjadi “kekuatan” bagi keutuhan masyarakat Madura. Barangkali salah satu bentuk action untuk mengimbangi gegap-gempitanya budaya-budaya instant yang tampak di depan kita, seni tradisi Madura perlu diperkenalkan kembali, bukan sekedar wacana, tapi dengan diperlakukan sebagai wilayah kebutuhan fundamental masyarakat.

2 komentar:

: Syaf mengatakan...

tulisan ini "Seni Tradisi Madura Sebagai Penetrasi Budaya Global", adalah hasil copy paste dari blog kami, Lontar Madura, dengan link : http://www.lontarmadura.co.cc/2008/08/seni-tradisi-madura-sebagai-penetrasi.html
untuk menghargai karya tulis kami mohon dicantum sumber aktif, sebagaimana mestinya. Mohon maaf, mari kita saling menghargai. Apabila butuh tulisan yang lain tentang Madura, silakan copy paste dan link blog kami, http://lontarmadura.co.cc,http://okaramadura.blogspot.com,http://publiksastra.co.cc, http://lidawati.blogspot.com, http://brantaskkn.blogspot.com, http://talenta56.blogspot.com, http://budayamadura.blog.com, atau http://caberawet.blogspot.com. Silakan, selama mencantumkan sumber link

messom mengatakan...

mohon maaf,,,saya masih pemula jadi kurang tahu menahu,,,
sekali lagi saya mohon maaf,,,,

Poskan Komentar

katakan kata-katamu