.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Proses Islamisasi di Madura

Masuk dan berkembangnya Islam di Madura tidak bisa dilepaskan dari peranan penyebaran agama Islam di Jawa Timur,  yakni di Gresik dan Surabaya. Kota-kota tersebut dikenal sebagai kota pantai yang ramai kegiatan perdagangannya. Para pedagang dari kota-kota pantai itulah yang menyebarkan Islam sampai ke kota-kota lainnya di sepanjang pantai utara Jawa Timur seperti Tuban, Sedayu, Pasuruan, Besuki, Probolinggo bahkan menyeberang ke Madura yaitu Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Persebaran agama Islam di Madura, selain melalui jalur perdagangan, juga tidak terlepas dari peranan para wali yaitu Sunan Ampel dan Sunan Giri yang mengutus murid-muridnya ke Madura.

Islam pertama-tama disebarkan di pantai selatan kota Sumenep pada sekitar abad ke-15 M. Keyakinan akan kepercayaan baru tersebut mulanya disebarkan di daerah pesisir pantai yang merupakan tempat perdagangan. Sumenep merupakan kawasan perdagangan yang paling ramai di Madura. Oleh karena itu, di sini Islam tumbuh lebih pesat dibandingkan dengan daerah Madura bagian barat dan Pamekasan.

Selain melalui perdagangan, saluran Islamisasi di Sumenep juga melalui jalur santri, pondok pesantren, pengaruh penguasa setempat dan dengan jalan perkawinan baik perkawinan dengan penguasa lokal, atau dengan perkawinan dengan keluarga pemuka agama. Pada pemerintahan Joko Tole ada seorang penyiar agama Islam bernama Sunan Padusan yang menyebarkan agama Islam dan mendirikan pondok pesantren di Parsanga.

Banyak penduduk sekitar pesantren yang tertarik dengan cara berdakwah dan pendekatan Sunan Padusan akhirnya memeluk agama Islam. Keberadaan Sunan Padusan dan pondok pesantrennya yang terkenal sampai di pusat keraton (Banasareh) membuat Joko Tole, penguasa Sumenep pada masa itu, tertarik dengan agama Islam. Kemudian Sunan Padusan berhasil mengislamkan Joko Tole dan menjadi menantunya, hal ini menyebabkan semakin banyak rakyat Sumenep yang menganut agama Islam, agama yang dianut oleh raja mereka.

Pada masa pemerintahan Joko Tole inilah agama Islam mulai masuk ke Sumenep. Pada masa ini juga diberitakan adanya kontak pertama Sumenep dengan bangsa Cina. Tetapi tidak ada bukti-bukti tertulis atau arkeologis yang mendukung keterangan tentang kontak dengan bangsa Cina ini.

Pada abad ke-17, di Sumenep terdapat seorang tokoh persebaran agama Islam yang lain bernama Pangeran Katandur. Keturunannya banyak yang berhasil mengislamkan penduduk Madura. Salah satu keturunannya adalah Bendoro Saud yang menjadi penguasa Sumenep dari tahun 1750-1762 karena menikahi R.A Tirtonegoro, penguasa Sumenep pada masa itu. Pada abad ke-18 proses Islamisasi di Sumenep semakin meluas ketika diperintah oleh putra Bendoro Saud yang bernama Panembahan Sumolo. Ia membangun keraton Sumenep dan Masjid Jamik.

Masuk dan berkembangnya agama Islam di Sumenep diketahui dari data-data sejarah yang didapat dari bukti-bukti arkeologis. Bukti-bukti tertua tentang keberadaan Islam yang masih ada di Sumenep antara lain adalah masjid lama di Kepanjen yang didirikan pada tahun 1639 M oleh pangeran Anggadipa dan makam Pangeran Pulang Jiwa yang berangka tahun 1678 M yang terdapat di Asta Tinggi

Sumenep di bawah kekuasaan VOC
Mengenai pelaksanaan kekuasaan, VOC mengadopsi cara-cara yang digunakan ketika Sumenep di bawah pemerintahan Majapahit. Para regen harus pergi ke Batavia atau Semarang setahun sekali untuk menyembah pada gubernur jenderal atau wakil lainnya dari penguasa Belanda. Selain itu, VOC meneruskan pemungutan pajak impor dan ekspor. Raja boleh menerima pajak dari bandar pabean di pulau-pulau kecil sepanjang pantai selatan dan di sebelah timur, di samping juga semua pajak yang secara tradisional dipungut di Sumenep. Di atas itu semua, VOC mengenakan satu jenis pajak baru yakni kontingen. Kontingen ini merupakan pengadaan setiap tahun hasil panenan tanaman di daerah itu untuk dikirimkan oleh para regen. Ini merupakan beban yang sangat berat bagi penduduk setempat. Regen harus mengirimkan kontingen ke Jawa sebelum bulan November dengan perahunya dan biaya sendiri. Belanda tidak ikut campur tangan dalam hal cara bagaimana regen mengumpulkan kontingen yang diminta itu.

Di antara seluruh kabupaten yang berada di bawah gubernur Belanda untuk pantai timur laut, hanya kerajaan di Madura yang harus mengirimkan kacang-kacangan dan minyak kelapa. Di tempat-tempat lain, pengiriman beras, kapas dan kayu adalah penting. Sumenep seringkali harus mengirimkan garam dan asam Jawa juga. Barang-barang yang dikirimkan tergantung pada permintaan dan kadang-kadang penduduk bisa juga membayar sebagian dari pajak ini dengan uang. Sering terjadi VOC meminta tambahan penyediaan barang-barang tertentu dengan harga rendah yang ditentukannya sendiri. Ini adalah yang disebut sebagai pengiriman paksa.

Pemerintahan Notokusumo I
1. Bidang politik
VOC mengangkat RA Tirtonegoro (1750—1762) menjadi Bupati Sumenep. Sejak beridirinya, VOC telah selalu membuat perjanjian dengan pemimpin-pemipin setempat yang mempunyai urusan dengannya untuk menghindari salah paham. Semua kerajaan dan daerah yang telah ditaklukkan diberi pemerintahan sendiri (self government), sebuah istilah halus untuk suatu bentuk pemerintahan tidak langsung, di mana penguasa-penguasa setempat memperoleh tingkat kebebasan bertindak yang layak di wilayah mereka, dengan syarat-syarat yang ditentukan oleh si penjajah

RA Tirtonegoro menikah dengan Bendoro Saud yang kemudian diangkat mnjadi bupati menggantikan RA Tirtonegoro. Karena pernikahannya dengan Bendoro Saud tidak mendapat keturunan, maka RA Tirtonegoro mengangkat dua orang putera Bendoro Saud dari pernikahan sebelumnya dengan Nyai Isza yaitu Ario Pacinan dan Asirudin. Asirudin yang dikenal dengan nama Panembahan Sumolo atau Pangeran Notokusumo I (1762—1811) diangkat oleh VOC mengagantikan Bendoro Saud menjadi Bupati Sumenep. Ia membangun keraton Sumenep dan Masjid Jamik.

Pada masa pemerintahan panembahan Sumolo, Sumenep membantu VOC dengan mengirimkan pasukan dalam penyerangan ke Blambangan. Setelah Blambangan dapat ditaklukkan, Sumenep diberi hadiah daerah Panarukan oleh VOC. Panembahan Notokusumo ini dikenal oleh masyarakatnya sebagai orang yang arif sehingga masyarakat menyukainya.

Pada tahun 1810, Panembahan Sumolo diminta datang oleh kompeni ke Semarang untuk ikut serta menjaga daerah pesisiran berhubungan dengan timbulnya peperangan antara Belanda dan Inggris. Sewaktu Panembahan Sumolo tidak ada di Sumenep, tentara Inggris menyerang dari lautan dengan kapal perangnya yang mempergunakan meriam-meriam sampai di pantai Saroka. Karena Panembahan Sumolo tidak ada di tempat, maka Patih Sumenep yaitu Kiyai Mangundiredjo mengambil keputusan untuk melawan serangan Inggris dan bersama anaknya ke pantai Saroka yang disertai pula oleh pasukan tentara kerajaan Sumenep. Dalam pertempuran itu, Patih Mangundiredjo beserta anaknya gugur, demikian pula banyak anggota-anggota pasukan yang gugur di dalam peperangan itu. Mendengar kabar tersebut, Panembahan Sumolo sangat sedih, dan ketika ia sampai di Pantai Saroka ternyata tentara Inggris sudah meninggalkan medan pertempuran dan mereka sudah pergi berlayar meninggalkan perairan Sumenep.

2. Bidang kebudayaan
Hasil kebudayaan yang tercipta semasa pemerintahan Panembahan Sumolo atau Natakusomo I adalah Masjid Jamik dan Keraton Sumenep. Masjid Jamik Sumenep terletak di jalan Trunojoyo No. 6 yang termasuk wilayah kelurahan Bangselok, kecamatan kota kabupaten Sumenep, propinsi Jawa Timur. Masjid ini merupakan kompleks bangunan yang menempati tanah berukuran 89x89m. Selain bangunan induk, di dalam kompleks ini terdapat bangunan lain yaitu menara, gapura, serambi, bangunan sudut tembok keliling, pendopo, bencet, kantor takmir, tempat wudhu dan toilet.

Kompleks bangunan masjid ini memperoleh pengaruh seni bangunan dan ragam hias dari Eropa, Cina, dan lokal. Masjid ini dibangun atas karya seorang warga Cina. Terjadinya pemberontakan orang-orang Cina di Batavia mengakibatkan banyak orang Cina yang ditangkap atau dibunuh oleh tentara VOC. Dengan adanya penangkapan itu, orang-orang Cina melarikan diri ke kota-kota lain di Pulau Jawa.

Pada masa pemerintahan RA Tirtonegoro, datanglah 6 orang Cina ke Sumenep. Mereka adalah sisa pelarian dari Batavia. Salah seorang dari mereka bernama Lauw Koen Thing atau sering disebut Leo Kate. Ia seorang ahli bangunan. Ia menurunkan keahliannya kepada cucunya yang bernama Lauw Pia Ngo. Kemudian ia diberi kepercayaan oleh Panembahan Sumolo untuk membangun keraton Sumenep dan Masjid Jamik Sumenep. Atas jasanya itu, ia diberi tanah perdikan di pejagalan Sumenep yang kemudian dibangun rumah untuk keluarganya.

Kompleks bangunan keraton Sumenep terletak membujur dari selatan ke utara dan didirikan di atas tanah seluas lebih kurang 28.000 meter persegi. Keraton Sumenep sendiri menghadap ke arah selatan. Keraton ini terletak di sebelah timur dari alun-alun pusat kota Sumenep sehingga tampak lurus berseberangan dengan masjid jamik. Dulunya memang ada jalan lurus yang menghubungkan antara masjid dengan keraton, namun sekarang sudah tidak ada lagi sebab alun-alun sudah menjadi taman bunga.

Kesimpulan                         
Pulau Madura, sebagai daerah yang dikelilingi oleh wilayah perairan nusantara di Timur pulau Jawa, merupakan salah satu pulau yang menjadi incaran VOC. Tujuan VOC menguasai Sumenep adalah untuk menjadikannya sebagai pangkalan untuk menguasai pelabuhan-pelabuhan lainnya di timur Jawa.

Mengenai islamisasi, Madura sudah berkenalan dengan agama Islam sejak lama. Pulau ini mengadakan hubungan yang erat dengan Gresik dan Surabaya, tempat para pemimpin Islam yaitu Sunan Giri dan Ampel bermukim. Usaha pengislaman mengalami peningkatan yang pesat setelah Madura pada paruh kedua abad ke-16 berada di dalam daerah pengaruh kantong perdagangan Surabaya.

Sumenep adalah salah satu kabupaten di pulau Madura. Sumenep selalu mempunyai penguasa-penguasanya sendiri. Secara bertahap, penguasa-penguasa ini menjadi para bupati selain sebagai penguasa kerajaan. Ada tahun 1624, Sultan Agung dari Mataram menaklukan pula Madura dan tiga daerah kabupatennya. Setelah kekuasaan Mataram berakhir di Madura, kekuasaan selanjutnya berada di tangan VOC. Keadaan yang terjadi ketika kekuasaan Madura berada di tangan VOC adalah rakyat dibebani oleh berbagai pajak. Keadaan inilah yang menyebabkan rakyat Madura semakin sengsara.

Panembahan Sumolo atau Pangeran Notokusumo I (1762—1811) diangkat oleh VOC mengagantikan Bendoro Saud menjadi Bupati Sumenep. Ia dikenal oleh rakyatnya sebagai pemimpin yang arif. Keberhasilan yang terwujud ketika Sumenep berada di bawah pemerintahannya adalah didirikannya keraton Sumenep dan Masjid Jamik sebagai pusat kebudayaan Sumenep.

0 komentar:

Poskan Komentar

katakan kata-katamu