.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Permulaan Sejarah Jawa dan Madura


Menurut cerita purbakala kurang lebih tahun 78 datanglah Adji Saka dari negeri Campa yang memperkenalkan Negara Hindu ke pulau jawa dan madura.

Pada saat itu mulai diadakan perhitungan tahun Saka dan memperkenalkan huruf :

1. Anacaraka
2. Data sawala
3. Padajayanya
4. Magabatanga

Dengan demikian setahap demi setahap kebudayaan hindu mulai tersebar dan menurut cerita sekaligus orang jawa dan madura diperkenalkan pada Agama baru ialah adanya kepercayaan terhadap :

1. Brahma
2. Syiwa
3. Wisnu

Beberapa abad kemudian, diceritakan, bahwa ada suatu negara yang disebut Mendangkamulan dan berkuasalah seorang Raja yang bernama Sangyangtunggal. Waktu itu pulau Madura merupakan pulau yang terpecah belah, Yang tampak ialah Gunung Geger di daerah Bangkalan dan Gunung Pajudan didaerah Sumenep. Diceritakan selanjutnya bahwa raja mempunyai anak gadis bernama Bendoro Gung. Yang pada suatu hari hamil dan diketahui Ayahnya.

Ayahnya beberapa kali menanyakan tetapi gadis itu tidak tau pula kenapa sebabnya ia hamil. Raja amat marah dan menyuruh Patihnya yang bernama Pranggulang untuk membunuh anaknya itu. Selama Pepatih itu tiidak dapat membuktikan bahwa anak itu sudah dibunuh ia tidak boleh kembali kekerajaan. Patih Pranggulang menyanggupinya dan membawa anak Raja Yang hamil itu kehutan, sesampainya dihutan ia menghunus pedangnya keleher gadis itu tetapi setelah ujung pedang mau sampai keleher Bendoro Gung pedang itu jatuh ketanah begitulah sampai 3 kali, Pranggulang ahirnya meyakinkan dirinya bahwa hamilnya Bendoro Gung bukanlah hamil karena perbuatannya sendiri.

Karena itu ia tidak melanjutkan untuk membunuh anak Raja itu tetapi ia memilih lebih baik tidak kembali ke Kerajaan. Pada saat itu ia merubah nama dirinya dengan Kijahi Poleng dan pakaiannya di ganti juga dengan Poleng (Arti Poleng,kain tenun Madura). Ia lalu membuat rangkaian kayu-kayu (bahasa Madura Ghitek). Dan gadis yang hamil itu didudukkan di atasnya, serta gitek itu di hanyutkan menuju ke Pulau "Madu Oro".

Inilah asal mula Pulau Madura, sebelum berangkat Kijahi Poleng memesan kepada Bendoro Gung Untuk memukul kakinya diatas tanah jika ada keperluan apa papa maka Kijahi Poleng akan datang untuk membantunya, Selanjutnya ghitek itu terus menuju "Madu Oro" dan terdampar di Gunung Geger gadis hamil itu terus turun.


Lahirnya Raden Sagoro

Pada saat si gadis hamil itu merasa perutnya sakit dan segera ia memanggil Kijahi Poleng. Tidak antara lama Kijahi Poleng datang dan ia mengatakan bahwa Bendoro Gung akan melahirkan anak. Tak lama lagi lahirlah seorang anak laki-laki yang roman mukanya sangat bagus dan diberi nama "Raden Segoro" (Segoro = laut). Dengan demikian ibu dan anak tersebut menjadi penduduk pertama dari Pulau Madura.

Perahu-perahu yang banyak berlayar di Pulau Madura sering melihat adanya cahaya yang terang ditempat dimana Raden Segoro berdiam, dan seringkali perahu-perahu itu berhenti berlabuh dan mengadakan selamatan ditempat itu. Dengan demikian tempat itu makin lama menjadi ramai karena sering kedatangan tamu - tamu terutama yang niatnya dapat terkabul untuk maksud-maksud kepentingan pribadinya.

Selain daripada itu para pengunjung memberikan hadiah-hadiah kepada Ibu Raden Segoro maupun kepada anak itu sendiri. Selanjutnya setelah Raden Segoro mencapai umur 3 tahun ia sering bermain di tepi lautan dan pada suatu saat datanglah 2 ekor naga besar mendekati dia. Dengan ketakutan ia lari menjumpai ibunya dan menceritakan segala sesuatu yang dilihatnya. Ibunya merasa sangat takut pula karena itu ia memanggil kijahi Poleng. Setelah Kijahi Poleng datang, Bendoro Gung menceritakan apa yang telah dialami anaknya. Kijahi poleng mengajak Raden Segoro untuk pergi ketepi pantai.

Pada saat itu memang benar datanglah 2 ekor ular raksasa dan Kijahi Poleng menyuruh Raden Segoro supaya 2 ekor ular itu didekati dan selanjutnya supaya ditangkap dan dibanting ke tanah. Setelah dikerjakan oleh Raden Segoro maka 2 ekor ular raksasa tersebut berubah menjadi 2 buah tombak. Tombak itu oleh Kijahi Poleng diberi nama Si Nenggolo dan Si Aluquro. Kijahi poleng mengatakan supaya Si Aluquro disimpan dirumah saja dan Si Nenggolo supaya dibawa apabila pergi berperang. Selanjutnya diceritakan, setelah Raden Segoro berumur 7 Tahun berpindahlah tempat mereka dari Gunung Geger ke dekat Nepa. Didesa Nepa itu memang penuh dengn pohon Nepa dan letaknya sekarang ada di Ketapang (Kabupaten Sampang) dipantai Utara yang sekarang banyak keranya.

Selanjutnya diceritakan, Raja Sanghjahtunggal dinegara MendangKamulan, kedatangan musuh dri negara Cina. Dalam Pertempuran tersebut MendangKamulan berkali-kali menderita kekalahan, sehingga rakyatnya hampir musnah terbunuh. Pada suatu malam ia bermimpi kedatangan seorang yang sangat tua dan berkata bahwa di pulau Madu-Oro (Madura) bertempat tinggal anak muda bernama Raden Segoro. Raja dianjurkan untuk minta bantuan Raden Segoro jika dalam peperangan ingin menang.

Keesokan harinya Raja memerintahkan pepatihnya untuk datang ke Madura, menjumpai Raden Segoro guna minta bantuan. Sesampainya Patih tersebut di Madura, ia terus menjumpai Raden Segoro dan mengemukakan kehendak Rajanya. Ibu Raden Segoro mendatangkan Kijahi Poleng dan minta pendapatnya, apakah kehendak raja dikabulkan atau tidak. Ternyata Kijahi Poleng merestui agar Raden Segoro berangkat ke kerajaan MendangKamulan untuk membantu raja didalam peperangan. Raden Segoro berangkat dengan membawa senjata si Nenggolo. Kijahi Poleng ikut serta, tetapi tak tampak kepada orang.

Sesampainya di kerajaan Mendangkamulan terus berperanglah ia dengan tentara Cina> Begitu si Neggolo diarahkan kepada sarang musuh, maka banyak tentara musuh tewas terkena penyakit. Akhirnya Raja Mendangkamulan atas bantuan Raden Segoro menang didalam peperangan dengan tentara Cina dan setelah itu Raja mengadakan Pesta besar karena dapat mengusir musuhnya. Raja bermaksud mengambil Raden Segoro sebagai anak mantunya. Ditanyakanlah kepadanya siapa sebenarnya orang tuanya. Raden Segoro minta ijin dahulu untuk pulang ingin menanyakan kepada ibunya. Sesampainya di Madura ia menanyakan kepada ibunya siapa gerangan ayahnya.

Ibunya kebingungan untuk menjawabnya. Pada saat itu pula ibu dan anaknya lenyaplah dan rumahnya disebut Keraton Nepa. Diceritakan selanjutnya bahwa menurut kepercayaan orang, dua buah tombaknya (Si Nenggolo dan Si Aluquro) pada akhirnya, sampailah ketangan Pangeran Demang Palakaran, Raja Arosbaya. Karena itu sampai sekarang 2 tombak itu menjadi Pusaka Bangkalan.

Demikianlah diceritakan adanya penduduk pertama di Pulau Madura. Dari segi sejarah memang masih dicek kebenarannya, tetapi karena cerita ini kuat beredar dan menjadi legenda (dongengan) dari generasi ke generasi, kami anggap perlu untuk diceritakan kepada para penggemar sejarah.

0 komentar:

Poskan Komentar

katakan kata-katamu