.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Pangkak, Tradisi Masyarakat Kangean



Kabupaten Sumenep terletak di ujung timur Pulau Madura, secara administrasi terdiri atas 25 kecamatan yang terbagi dalam 17 kecamatan daratan dan 8 kecamatan kepulauan, letak geografis yang demikian ini ternyata mampu memunculkan potensi-potensi seni dari kondisi social budaya yang beraneka ragam.

Ke arah timur  99 mil,±laut dari kota Sumenep terdapat sebuah pulau yang berjarak  yaitu Pulau Kangean. Pulau ini dapat ditempuh dengan menggunakan kapal  7 jam perjalanan. Pusat kegiatan administrasi±laut atau perahu mesin  pemerintahan di pulau ini adalah di Kecamatan Arjasa, dimana di tempat ini salah satu potensi budaya tumbuh, berkembang, memasyarakat, dan menarik sebagai suatu kekhasan seni budaya di Kabupaten Sumenep, yaitu Upacara Adat “Pangkak” yang terdapat di Desa Kalikatak.

Upacara adat ini berawal dari sebuah tradisi unik masyarakat Pulau Kangean. Yang biasanya mengadakan acara panen (menuai padi) bersama, dengan tujuan sebagai rasa syukur masyarakat dan pemupuk rasa kebersamaan.

Upacara ini dikemas dengan memadukan ritual keagamaan, kesenian, dan aktivitas masyarakat setempat dalam keseharian. Upacara Pangkak bukanlah upacara besar sebagai mana upacara-upacara ritual yang dilakukan masyarakat Sumenep pada umumnya. Namun upacara ini, lebih menonjolkan sifatnya yang sederhana, unik, kebersamaan, dan jauh berbeda dengan upacara yang kita kenal (misalnya NYADAR), upacara Pangkak sangat jauh dari hal-hal yang berbau mistis.

Karena sifatnya yang kedaerahan dan sangat sederhana, upacara Pangkak sendiri kurang mendapat perhatian dan sorotan dari masyarakat maupun dari pemerintah Sumenep. Tak ayal jika keluar sedikit dari kawasan Kangean, Pangkak menjadi sebuah nama yang asing bagi para pendengarnya. Meskipun demikian yang tak boleh dilupakan adalah bahwa Pangkak merupakan salah satu tradisi peninggalan yang dapat menunjukan suatu identitas social kehidupan dari masyarakat Pulau Kangean, sehingga tidak berlebihan kiranya jika bukan hanya masyarakat Pulau Kangean saja yang menjaga identitas tersebut, namun kita secara bersama-sama saling menyelamatkan upacara adat yang hampir punah ini.


Seperti halnya desa-desa lain, desa Angon-angon mempunyai beberapa adapt istiadat yang tidak jauh beda dengan mereka, diantaranya adalah adapt pernikahan.
Seperti yang dikutip dari para sesepuh, soal peminangan seorang gadis sampai pada acara pernikahannya, maka pada mulanya orang tua para dua calon mempelai membuat suatu kesepakatan tanpa sepengetahuan dua calon mempelai tesebut karena sudah menjadi adapt ataupun tradisi sejak nenek moyang terdahulu. Konon katanya selalu dijodohkan pada famili-familinya sendiri dengan alas an agar ikatan kekeluargaan tidak terputus dan menjadi keluarga besar secara turum temurun.
Kemudian menurut kebiasaan para orang tua laki-laki, sehingga akan selalu melihat dan memperhatikan di setiap kalangan keluarga-keluarganya sendiri, barangkali disitu kebetulan ada gadisnya, barulah para orang tua bermusyawarah untuk meminangnya. Setelah ada kesepakatan maka orang tua laki-laki mendatangi rumah si gadis tersebut dengan membawa kopi gula, dengan maksud sementara menanyakan si gadis itu, walaupun sebenarnay sudah tahu bahwa si gadis itu kosong. Namun jawabannya sementara dari pihak orang tua si gadis menyampaikan terima kasih atas kunjungannya. Setelah bermufakat dengan para sesepuh barulah orang tua mengunjungi rumah pihak laki-laki dengan membawa kue-kue ala kadarnya sebagai pernyataan setuju.
Selanjutnya, datanglah pihak laki-laki untuk kedua kalinya dengan membawa Pisang dan Nangga Sari. Sementara art dari persembahan-persembahan tadi mengandung makna yang penting. Misalanya pisang ini ada dua macam yaitu pisang muda dan pisang yang sudah matang. Pisang muda dapat diartikan bahwa perkawinan masih lama waktunya. Sedangkan pisang yang sudah matang mengandung arti bahwa perkawinannya sudah tidak lama lagi waktunya. Kemudian makna dari Nangga Sari ialah mencari (Asare).
Karena peminangan tadi sudah disetujui, maka keesokan harinya datanglah si tunangan laki-laki ketempat si gadis dengan membawa sepikul kayu bakar sebagai persembahan dan sebagai suatu tanda bahwa si tunangan sudah bertandang, dengan maksud ngapel (Asanjhe).
Selanjutnya setelah pertunangan terus berlangsung maka tibalah waktunya pada musim semi, sebagai petanda bahwa sebentar lagi para petani turun kesawahnya masing-masing. Biasanya bagi bisan perempuan mengadakan selamatan mengundang bisan laki-laki dan tetangga terdekat sedangkan bisan laki-laki membawa beras sekaligus dengan rempah secukupnya. Sesuai itu keesokan harinya pergi ke leluhurnya untuk minta saat yang bagus, sesuai keyakinan diwaktu itu, barulah bisa turun ke sawahnya besama-sama dengan bisan untuk mengolah tanah sawah tersebut dan menanam bibit padi. Menjelang kemudian setelah bibit padi siapa di tananam, maka bisan perempuan mengundang lagi untuk bercorak tanam bersama-sama.
Setelah tanam padi terus bergabung hingga padi semakin tua, maka petani membangun gubuk-untuk tempat berteduh sambil menunggu saat panen padi tiba (Arangge’). Setelah padi mualai menguning maka para petani berbondong-bondong menempati gubuk tersebut di sawahnya masing-masing (Apondung) menyiapkan segala sesuatunya untuk saat panen padi nanti, dengan berbulan-bulan di sawahnya manjaga padinya yang sudah siap di panen.
Saat panen tiba maka para petani yang hasil taninya banyak dan memuaskan, mereka sambil lalu mengadakan kesenian Pangkak. Pangkak di lakukan oleh para lelaki sedangkan perempuaannya menonton sambil memanen padi.
Pangkak adalah musik yang terbentuk suara mulut yang disertai dengan tari – tarian. Di tengah – tengah permainan seni Pangkak para tetangga sekitarpun semakin senang dan makin banyak yang berdatangan sehingga para pemanen para pemanen padi semakin senang dan semakin banyak yang berdatangan sehingga para pemanen padi semakin semangat menyelesaikan perkerjaannya .
Pangkak waktu dulu telah membudaya hingga hingga cara berpakaiyanpun sangat rapi diantaranya : sarung merah, baju putih dan memakai blangko (SENGEL).
Setelah panen selesai, maka padi tersebut diangkut dengan kuda yang beriring – iringan. Menurut kebiasaan diwaktu dulu, setelah padi sudah di tempatlama kemudciaan dari pihak perempuan berbincang – bincang merencanakan hari dan tanggal perkawinan. Setelah hari tanggal dan waktu acara sudah di tentukan maka bisan perempuan memberitahukan kepada bisan laki – laki tentang keputusan waktu pernikahan. Kurang lebih sekitar 1 bulan menjelang hari pernikahan biasanya dari pihak laki – laki mengadakan acara yang di namakan PEPENTA,AN

Pepentaan dilakukan dengan mengondang sanak familinya sendiri dan tetannga terdekat yang dilakukan sore hari dengan berbondong – bondong sepanjang jalan yang berjulah sekitar 300 orang. Ada yang membawa kue seperti rangginang dan ada juga yang membawa peralatan seperti lamari, ranjang kasur dan lain – lain yang din iringi kesenian adat yaitu GENDENG DUMEK .

Keesokan harinya dari pihak perempuan mengadakan acara ke tempat pihak laki – laki yang di sebut BEBELESAN. Selanjutnya sampailah pada hari akat nikah yang di rayakan seperlunya. Kemudian berikuanya di adakan suatu acara yang di namakan PANGANTEN ATOLO, yaitu pengantin laki – laki mau memasuki rumah pengantin perempuan yang di lakukan malam hari yang diiringe dengan oleh para keluarga dengan cara yaitu sekitar 5 meter dari pintu masuk, maka pengantin laki – laki dan rombongannya jalan berjongkok sambil kedua tangannya menyalami kedua mertuanya. Sedangkan pengantin wanitany menonggu di dalam kamar.sorak para tamu dan undangan tak terhentikan ketika pengantin laki – laki memasuki kamar wanita.
Keesokan harinya di lanjutkan dengan hiburan KOKOCORAN yang di selenggarakan sore hari yaitu para keluarga daan kerabat menari mengelilingi kedua dua mempelai dengan gamelan dan kebiasaan yang lain untuk meramaikan acara .
Pada malam kedua, kegiatan pentunjukan terus berlangsung seperti diadakan acara kesenian seperti MACOPAT (melle’an ) dan kedua mempelai tidak di perbolehkan untuk tidur selama acara berlangsung satu malam sunntuk untuk mendengarkan sura macopat yang merdu yang di namakan KAPOTREN.
Adat – istiadat terus berlangsung sehingga beberapa bulan kemudian sampai mempelai hamil, setalah kandungangnya berusia 7 bulan maka di adakan syukuran yang biasanya sebut dengan serlamatan 7 bulan, caranya :ibu hamil di dudukkan di atas kelapa sambil sang dukun dan para sesepu menyerami air dengan cara bergantian kemudian kelapa tadi di belah dau dan di lemparkan keatas untuk menentukan apakah yang akan di lahirkannya nanti laki – laki atau perempuan.setelah ruwat dilakukan biasanya ada sedikit perubahan pada ibu hamil tersebut seperti ngedam.
Beberapa bulan kemudian,lahirlah seorang bayi dan biasanya para kerabat dn tetangga menjenguknya. Dan pada saat bayi berusian 40 hari di adakan acara selamatan yang biasanya disebut AQIQAH sekaligus pemberian nama.

Peristiwa Pangkak

 

Perlu diketahui terlebih dahulu, Upacara Adat Pangkak memiliki artian upacara pemotongan padi atau pemangkasan padi saat tiba masa panen. Artian ini diperoleh dari kata Pangkak yang dapat diartikan memotong atau memangkas dalam bahasa Madura.

Dapat diuraikan aktifitas sebelum panen berjalan seperti biasa, mulai dari penanaman bibit, proses penyiraman, pemberian pupuk, setelah mencapaimasa panen barulah aktifitas perayaan dipersiapkan. Dalam hal ini pemilik sawah bersiap-siap untuk merayakan Upacara Adat Pangkak. Persiapannya meliputi ;

1.       Mempersiapkan surat undangan yang akan disebarkan dan memberikan pengumuman kepada para tamu yang akan diundang. Semakin banyak tamu yang menghadiri acara tersebut semakin bangga pula sang pemilik sawah.
2.      Mempersiapkan sesajen dan perlengkapan yang diperlukan.
3.      Menunjuk seorang tetua adat untuk memimpin acara tersebut.

Setelah segala sesuatu yang diperlukan telah terasa siap, maka acara tersebut
dapat dilaksanakan. Acara ini dilaksanakan pada malam bulan purnama dimana para undangan telah berada dan berkumpul di tengah sawah dengan mengenakan pakaian bagus berwarna norak. Selain itu sang pria bertugas mengangkut padi dan kaum wanita bertugas menuai padi, kemudian acara dimulai dengan pembacaan doa/parikan/mantra oleh pawang pangkak desa setempat. Adapun mantra tersebut ialah sebagai berikut;


Ambololo hak-hak, ambololo harra
-        akadi omba’ gulina padi
-        masa arangga’ terbhi’ padi
-        togur reng tani lebur eoladi
-        e masa reng tani arangga’ padi
Ambololo hak-hak, ambololo harra
-        gumbhira kejung sambi atandhang
-        ka’dissa oreng lake’ nabbu gendang
-        tal-ontalan palotan sambi atandhang
-        tanda nyare judu ate lodang

 Ambololo hak-hak, ambololo harra

terjemahan bebasnya:

Ambololo hak-hak,ambololo harra
-        Andai ombak ayunan padi
-        Masa panen dekat menanti
-        Pondokan petani indah dilihat
-        Dimasa petani memotong padi
Ambololo hak-hak, ambololo harra
-        Riang lagu sambil menari
-        Disana lelaki menabuh gendang
-        Saling melempar ketan silih berganti
-        Tanda jodoh dicari
Ambololo hak-hak, ambololo harra

Setelah pawang pangkak membacakan mantranya, kemudian acara selanjutnya diisi dengan tari-tarian yang diiringi berbagai jenis musik pengiring. Adapun tari-tarian yang dibawakan adalah

1.         Tari Ngagga Manok (Tari Halau Burung)
Tari yang dilakukan dipinggir sawah dimana gerakannya menyerupai menghalau burung agar tidak mendekay kearah padi yang sedang tumbuh.

2.       Tari Ronjhengan (Tari Menumbuk Padi)
Tarian yang dilakukan bersamaan dengan saat para wanita menumbuk padi secara bersamaan dan berselingan.

Selain itu untuk memperindah tarian tersebut juga diselingi beberapa musik pengiring yang berupa :

1.      Saronen
Musik tradisi rakyat yaitu Kennong Tello’

2.      Ronjangan
Alat penumbuk padi yang terbuat dari batangan kayu panjang yang diberi lubang sepanjang batang kayu.

0 komentar:

Poskan Komentar

katakan kata-katamu