.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Mengenal Pandangan Hidup Orang Madura

  Kesan miring tentang Madura sebenarnya akibat tindak tanduk negatif sebagian kecil orang Madura di perantauan. Salah satu contoh, ludruk Surabaya yang populer pada tahun 1950-an sering menampilkan cerita Pak Sakera, laki-laki beringas yang banyak menumpahkan darah. Tokoh legendaris yang banyak merenggut nyawa dengan celuritnya itu agaknya, secara simbolis telah dianggap mewakili sosok laki-laki Madura. Ditambah lagi ada segelintir orang Madura yang menjadi barisan “Cakra” yang dikoordinir penjajah Belanda pada zaman revolusi fisik. Barisan itu terdiri dari orang-orang Madura yang digunakan Belanda untuk menghancurkan kedaulatan R.I. di pulau Jawa. Kebanyakan mereka terdiri dari buruh kasar, pekerja pelabuhan, penjual sate, buruh dan pedagang kecil yang terdesak oleh tekanan ekonomi, di samping mereka tidak mengerti nasionalisme. Karena bujukan Belanda akhirnya mau menjadi serdadu bayaran.
            Imej negatif akibat beberapa kasus yang saya sebutkan di atas bukan hanya menjadi kabut bagi orang-orang luar Madura saja, bahkan sampai-sampai ada beberapa gelintir putera Madura setelah sukses di rantau yang kemudian merasa malu dan enggan mengaku orang Madura. Akibat kesan negatif itu banyak orang menjadi lupa kepada Aria Wiraraja yang menjadi konseptor berdirinya kerajaan Majapahit; lupa kepada Trunojoyo yang pemberontakannya pernah mengkocarkacirkan kekuatan kolonial Belanda di Jawa; lupa kepada K.H. Kholil Bangkalan yang murid-muridnya menjadi pemimpin-pemimpin pesantren besar yang bertaburan di seluruh Indonesia; lupa kepada M. Tabrani yang menjadi salah seorang pelopor tercetusnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928; serta lupa kepada Abd. Halim Perdanakusuma yang gugur untuk kemerdekaan Indonesia.
            Nama-nama yang saya sebut di atas seharusnya menjadi contoh teladan bagi orang Madura masa kini untuk bisa hidup bermakna dan berguna bagi orang lain.
            Miringnya imej tentang orang Madura  itu ialah karena kurangnya informasi yang luas yang mampu untuk menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya. Selama ini publikasi tentang Madura belum mengungkapkan sikap krakteristik orang Madura secara mendasar sehingga denyut lubuk jantung Madura yang sebenarnya masih sedikit sekali dikenal orang.

II

            Buku-buku ilmiah yang membicarakan hal itu bukan hanya jarang tetapi agak sulit dijumpai. Kesulitan ini saya atasi dengan melacak beberapa rujukan yang masih mungkin didapat dengan mencari ungkapan-ungkapan dalam bentuk peribahasa, seloka dan lain-lain, yang menggambarkan sikap budaya manusia Madura.
            Sastra Madura, terutama sastra lisan pernah berkembang dengan semarak. Sebelum ada radio dan televisi sering dijumpai seorang nenek di bawah bulan purnama berdongeng kepada cucu-cucunya. Tradisi bertutur sebelum tahun 1970-an menjadi kegiatan yang mengasikkan. Buku “Siman dan Simin jilid II” karangan Oemar Sastrodiwirjo melukiskan 2 orang anak sekolah (SD) ketika berlibur ke rumah neneknya mendapat hadiah dongeng yang menyenangkan. Buku bacaan itu meskipun fiksi, tetapi benar-benar menggambarkan realitas kehidupan sehari-hari pada tahun 1950-an. Sekarang sudah jarang nenek yang bisa mendongeng.
            Sastra lain yaitu pepatah petitih yang selalu diucapkan untuk menanggapi liku-liku kehidupan sehari-hari. Meskipun pepatah sekarang jarang dipakai terutama dalam pergaulan di kota namun dari pepatah lama itu masih bisa ditangkap warna dan sikap jiwa masyarakat Madura dari generasi ke generasi, meskipun pada empat dasawarsa terakhir ini sudah terasa adanya kecendrungan bergesernaya nilai-nilai, yaitu sejak bahasa Madura tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah.

III

            Salah satu diantara pepatah Madura ada yang  berbunyi abantal omba’ asapo’ angen (berbantal ombak berselimut angin). Ungkapan ini menggambarkan cita-cita,  ketangguhan dan sikap pantang menyerah kepada laut betapa pun kerasnya gelombang menggebu. Kalau kita melihat peta Indonesia, pulau Madura akan terlihat di bagian bawah seperti seekor induk ayam yang diikuti tidak kurang 70 ekor anaknya yang merupakan pulau-pulau kecil yang termasuk kepualauan Madura. Dari banyak pulau itu sejak dahulu kala muncul bahariwan-bahariwan tangguh yang sanggup untuk mengarungi laut sampai keseluruh laut di kawasan Nusantara. Agar bisa mengarungi laut mereka membuat perahu. Untuk menunjukkan bahwa orang Madura punya etos kelautan, Sulaiman, BA telah berkeliling ke seluruh pulau-pulau yang termasuk kepulauan Madura. Dari hasil penelitian yang tebalnya lebih dari 200 halaman itu ditemukan bahwa bentuk-bentuk perahu Madura sebanyak 36 jenis, dengan nama jenis bentuk yang berbeda pula, antara lain: parao lete’, lo-molowan, sampan pajangan, sampan kateran, janggolan, parao kaci’ dan lain-lain. Dua jenis di antaranya sekarang sudah punah dan tidak dibuat orang lagi, yaitu paddhuwang dan karoman.
            Dari 36 jenis bentuk perahu itu bisa ditarik kesimpulan bahwa orang Madura pada abad-abad yang lalu telah berupaya menjawab permasalahan hidup, antara lain dengan menjadi pelaut, karena itu mereka membuat aneka ragam perahu yang bentuknya disesuaikan dengan keadaan medan di laut.
            Ir. Bambang Irawan, seorang peneliti dari Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya, pernah mengatakan, bahwa, sudah sepantasnya kalau dibangun sebuah “museum bahari” di Madura, mengingat kekayaan ragam perahu Madura dengan semua variasinya merupakan salah satu kekayaan khasanah kebudayaan Indonesia.
            Kemampuan dalam menciptakan ragam bentuk juga tampak dalam membuat rumah. Di Madura kita melihat rumah pegun, potongan, pacenan, peseseran dan lain-lain. Pada rumah pegun terlihat bentuk seperti perahu sebagai mahkota. Ini menunjukkan meskipun orang Madura berumah di pedalaman masih senang memakai simbol laut.
            Orang Madura membuat perahu maupun rumah, selalu dihiasi dengan ukir-ukiran. Ciri ukiran Madura itu, banyak berupa tumbuh-tumbuhan, bunga-bungaan dan sedikit sekali yang berupa binatang. Sampai pertengahan abad ke-20 ukiran Madura masih digemari masyarakat Madura. Bahkan, secara umum benda-benda yang dipakai orang Madura dihiasi ukir-ukiran, seperti gamparan (alas kaki dari kayu), jantera, centong nasi, balai-balai, peralatan kerapan sapi dan benda-benda lainnya.
            Kesenian Madura yang lain seperti, topeng dhalang, sandur, pojian, ratep, pantil, sintung, sronen dan lain-lain merupakan warisan budaya Madura masa lampau yang banyak diperlihatkan para pengamat seni karena karakter Maduranya yang spesifik.
            Dari semua hasil kreatif orang Madura yang berupa kesenian itu secara umum bisa disimpulkan adanya ekspresi estetik orang Madura. Juga dalam pepatah “abantal omba’ asapo’ angen” tersirat gejolak jiwa yang ingin melanglangbuana serta kesiapan dan ketabahan untuk melawan segenap rintangan betapapun besar dan hebatnya. Hal itu dibuktikan pula dengan banyaknya orang Madura yang suka merantau, mengadu untung di negeri orang, baik menjadi pedagang kaki lima, penjaja sayur, penjual sate, pedagang buah-buahan, pekerja kasar dan ada pula yang pedagang menengah dan usahawan. Umumnya mereka memulai usaha-usaha dari kelas yang paling bawah, dan mereka berusaha dengan tekun dan tabah untuk memperbaiki kehidupannya. Semangat kerja keras untuk mencari sesuap nasi tampak sekali, yaitu mereka mau bekerja apa saja meskipun dipandang rendah oleh orang lain, asalkan rejeki yang didapatnya halal.
            Mereka terus berusaha menyelami medan kehidupannya  sehingga satu ketika ditemukan seni sukses atau kiat dalam bidang usahanya. Refleksi dan spontanitas mereka setelah mapan dalam sebuah bidang usaha, betapapun kecilnya usaha itu, tercermin karakter yang khas baik dalam sikap maupun dalam ucapannya.
            Dari pepatah yang saya  sebutkan pertama ini, tersimpul gairah hidup, vitalitas untuk tetap tegar menghadapi penderitaan dan hambatan. Hal itu merupakan denyut nadi manusia Madura yang berupaya tabah menghadapi pahit getirnya gelombang kehidupan.

IV

            Pepatah abantal syahadat asapo’ iman (berbantal syahadat berselimut iman) melukiskan religiusitas orang Madura yang terkenal fanatik terhadap agamanya (Islam). Itu bisa dilihat pada umumnya dalam kelengkapan rumah tradisional Madura ada bangunan yang diletakkan di sebelah barat halaman dengan menghadap ke timur yang disebut langgar, sebagai tempat untuk mengerjakan shalat. Anak-anak sejak berumur 5 tahun sudah diserahkan kepada guru ngaji akau kiai untuk belajar agama. Pesantren-pesantren besar atau pun kecil selalu dijumpai di mana-mana, sampai ke pulau Kangean.
            Dalam hal itu, kiai telah muncul sebagai pemandu nilai-nilai yang biasanya lebih dihargai masyarakat pedesaan dari pemimpin formal. Kiai bukan hanya sebagai pengajar agama, akan tetapi lebih dari itu ialah, sebagai konsultan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan.
            Pada zaman penjajahan banyak kiai sengaja menjauhi kota dengan bermukim di pedesaan dan bahkan ada yang jauh di kaki gunung karena mereka umumnya enggan bekerjasama dengan pemerintah penjajah Belanda. Sehingga tidak mustahil kalau saat itu banyak kiai yang mengharamkan dasi, celana dan membayar pajak sebagai tanda tidak senang pada penjajah.
            Ikatan orang Madura dengan agama sedemikian kuat, seorang Madura yang sehari-harinya tidak melaksanakan syariat agama, akan marah kalau disebut bukan orang Islam. Sikap mencintai agama seperti itu sebenarnya bisa menjadi modal untuk melangkah menuju pengamalan agama dari sumber aslinya sebagai manifestasi keyakinan kepada Tuhan. Dengan demikian, agama bukan hanya diterima sebagai warisan tradisi, tetapi benar-benar di tempatkan pada bagian yang paling vital dalam mewarnai kehiduppan.
  
V
            “Pote mata pote tolang, ango’ poteya tolang” (putih mata putih tulang,lebih baik puti tulang) ialah pepatah yang maksudnya, dari pada hidup menanggung malu lebih baik mati. Ungkapan itu menyiratkan pentingnya menjaga harga diri bagi manusia Madura. Tetapi sering disalah artikan sehingga bisa memacu “carok”. Sebagian kecil orang Madura kalau istrinya diganggu laki-laki lain, atau salah seorang keluarga dekatnya dipermalukan orang sampai menurunkan martabat kekeluargaan, atau air yang mengenangi sawahnya diambil orang, akan menjadi masalah yang prinsip dengan melakukan carok.  Padahal kalau ungkapan itu diinterpretasikan secara intelektual berarti, lebih baik mati dibandingkan hidup tercemar malu dan tanpa kehormatan. Karena itu orang Madura yang mengerti moral akan berusaha menjaga kehormatan agar tidak berbuat yang memalukan.
            Dalam filsafat hidup orang Madura ada ungkapan “mon ba’na etobi’ sake’ ajja’ nobi’an oreng” (kalau kamu dicubit merasa sakit janganlah mencubit orang). Jika ungkapan di atas difahami dengan sikap cerdas, seseorang akan berusaha keras untuk menghormati orang lain, agar orang lain tidak terlukai oleh ulahnya.
            Membunuh orang meskipun demi martabat sudah tentu sangat bertentangan dengan hukum yang berlaku, akan tetapi kalau kriminalitas carok bisa ditekan mereda, tidak berarti harus menekan pupusnya harga diri. Menata harga diri untuk hidup terhormat adalah sesuatu yang essensial dalam kemanusiaan yang adil dan beradab. Pepatah “pote mata pote tolang, ango’ poteya tolang” apabila dipandang dengan akal sehat, bisa dijadikan panduan untuk memuliakan martabat kemanusian setiap orang, dengan catatan, interpretasi yang cenderung mengarah ke kriminalitas harus dibuang jauh-jauh.
            Dalam hal itu buku Baburugan Becce’ yang ditulis oleh Mas Wignyoamidarmo terbit di Jakarta tahun 1909, pada pengantarnya, antara lain dijelaskan seperti ini:
            “Selerressa akkal paneka menangka komodhdhina manossa. Oreng se korang pangarteyan, ampon nyata odi’ epon kadiya parao e tengnga tase’ se tadha’ komodhdhiepon.
            Nyama se sae paneka kodu esare gu-onggu, kodu eparlowagi panyareepon, lebbiyagi parlo pole dhari panyareepon kasogiyan.”

            (Akal itu berfungsi sebagai kemudi kehidupan manusia. orang yang kurang pengetahuan hidupnya seperti perahu yang berlayar tanpa kemudi.
            Nama baik (harga diri) seyogyanya diupayakan dengan sungguh-sungguh, lebih diutamakan dari mencari harta benda (kekayaan).

            Dengan meresapi “pote mata pote tolang, ango’ poteya tolang”, seseorang akan malu untuk berbuat sesuatu yang melanggar norma-norma yang telah disepakati masyarakat. Sebab dengan berbuat yang tidak senonoh itu akan membuat coreng hitam di wajah sendiri.
            Kalau ada seseorang yang melanggar adat, tidak tahu sopan santun, dan tidak menjaga kehormatan dirinya, dalam pepatah Madura disebut “Ta’tao Judanagara” (tidak kenal Yudonegoro). Yudonegoro adalah seorang tumenggung yang memerintah daerah Sumenep pada abad ke-17. Ia sangat bersimpati pada perjuangan Trunojoyo. Ia terkenal sebagai seorang tumenggung yang menghormati orang kecil, adil dan bijaksana dalam menjalankan roda pemerintahan. Karena keluhuran budi pekertinya, namanya dikekalkan dalam pepatah.
            Selanjutnya buku “Baburugan Becce’” menggambarkan sikap manusia (Madura) yang menjelaskan sebuah kerangka moralitas sebagai berikut:
Sekebba oreng ana-barna: kerres, tombak, peddhang, jambiya’, lancor ajam ban salaenna. Kep-sekep se kasebbut e attas jareya kabbi tadha’ se bisa ngongkole so kep-sekep se esebbuttagi e baba reya:
1.      Tello’ parkara areya kodu ejaga: jila, adat, kalakowan.
2.      Tello’ parkara reya kodu ekaandhi’: ate sacca (esto), ate socce, jujur.
3.      Tello’ parkara reya kodu ekabaji’i: mangga’an, nespa, ta’andhi’panarema.
4.      Tello’ parkara reya kodu eengguna: saroju’, kabunga’anna ate, kasennengnganna ate.
5.      Tello’ parkara reya kodu epeyara (eomesse): bakto (baja), pesse, kabarasan.
6.      Tello’ parkara reya kodu ehormate (eaji’i): omor, uwet (dhang-ondhang), agama.

(Manuasia mempunyai senjata bermacam-macam, keris, tombak, pedang, jembia, celurit dan lain-lain. Senjata-senjata itu semua kegunaannya di dalam kehidupan tidak akan bisa melebihi pegangan yang tersebut di bawah ini:
1.      Tiga hal yang harus dijaga: lidah, adat dan pekerjaan.
2.      Tiga hal yang harus dipunyai: hati yang setia (persahabatan), nurani yang suci dan hati yang jujur.
3.      Tiga hal yang harus dijauhi: tega hati (aniaja), rendah diri (bukan rendah hati) dan tidak bisa menerima kenyataan hidup.
4.      Tiga hal yang harus ditempati: menjunjung tinggi musyawarah, kebahagiaan hati dan kesenangan (ketenangan) hati.
5.      Tiga hal yang harus dipelihara: waktu, uang dan kesehatan.
6.      Tiga hal yang harus dihormati: umur, undang-undang dan agama).

            Dalam buku Baburugan Becce’ yang sebagian kerangkanya dikutipkan di atas mengurai secara mendetail tatakrama manusia hidup sehingga buku itu bisa disebut sebagai buku pelajaran etika dan moralitas orang Madura kurang lebih 100 tahun yang lalu. Penulisan buku itu tentu berdasarkan adat dan tata kehidupan yang terdapat pada kelompok etnis Madura.
            Gambaran lain tentang manusia Madura bisa dilihat pada tokoh wayang seperti Baladewa. Kalau orang Jawa mempunyai tokoh favorit seperti Kresna dan Arjuna, orang Madura mempunyai tokoh Baladewa. Di mata orang Madura, meskipun Baladewa terkenal tegas dan kaku, tetapi ia selalu konsisten terhadap kebenaran, jujur dan adil serta rela berkorban. Bila mendapat penjelasan yang dapat meyakinkan hatinya, wataknya mudah berubah menjadi lemah lembut.
            Sikap rendah hati orang Madura bisa dilihat ketika orang Madura menyebut “anak saya” dengan “budhu’ kaula”, pada hal istilah “budhu’” lazimnya dipakai untuk anak binatang.

 VI

            Untuk melengkapi lukisan sosok manusia Madura, ada “saloka”, ungkapan yang lebih menjelaskan sosok manusia Madura yang bertanggungjawab terhadap kehidupan, lingkungan dan alam sekitarnya.
            Mon bagus pabagas (kalau engkau ganteng harus gagah), maksudnya seseorang yang cakep harus dilengkapi dengan keperwiaraan atau kepahlawanan, yaitu semangat berkorban untuk kepentingan masyarakat.
            Mon kerras paakerres (kalau engkau keras harus berkeris) maksudnya seseorang yang hendak bertindak tegas harus disertai kewibawaan dan keadilan. Sebuah ketegasan tampa wibawa bisa menimbulkan keresahan dan ketidakpuasan.
            Mon sogi pasoga’ (kalau engkau kaya harus tegar), mempunyai arti, seseorang yang kaya harus punya hati tegar untuk menolong kaum miskin.
            Dalam ketiga ungkapan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa, seorang individu, lebih-lebih pemimpin, haruslah bermanfaat bagi masyarakat. Solidaritas seyogyanya diwujudkan dengan memanfaatkan kelebihan yang ada pada diri seseorang untuk kepentingan orang banyak sebagai upaya untuk menghargai orang lain. Di Madura terdapat lagi ungkapan seperti mon ba’na penter ngargai oreng, bakal eargai oreng (kalau engkau pandai menghargai orang lain, engkau akan dihargai orang juga). Menghargai dan mengerti orang lain adalah bekal utama dalam menjalani kerukunan dan persaudaraan dengan siapa pun. Tanpa saling mengerti dan saling menghargai sulit tercipta iklim sejuk yang penuh perdamaian.
            Dalam pandangan hidup Madura yang ideal, tidak boleh seseorang itu ngerrep oreng sala, (menyembunyikan, melindungi dan membela orang yang salah). Jika seseorang melindungi orang yang salah ia akan dipandang sama dosanya dengan orang yang salah tersebut.
            Kalau ada orang Madura yang berbuat aniaya, malas, suka menipu dan manipulasi, suka mengganggu hak orang lain, jelas ia telah keluar dari tatanan nilai idealistik sebagai konsensus yang telah disepakati bersama. Sikap tercela lainnya dalam pandangan hidup orang Madura, raja cethak (besar kepala alias sombong), acethak dhuwa’ (berkepala dua alias munafik), tama’  (rakus), dan lain-lain. Sikap seperti itu harus dihindari karena bisa merusak persaudaraan dan pergaulan.

VII

            Dari uraian di atas, barangkali telah bisa dilihat sosok budaya manusia Madura, yang idealistik yang masih relevan untuk dijadikan bekal membangun masa depan yang lebih baik. Dalam buku “Mempertimbangkan Tradisi”, WS. Rendra menyatakan bahwa, tradisi itu tidak seluruhnya harus digusur habis. Manusia sekarang perlu bersikap kreatif terhadap tradisi. Maksudnya, bagian tertentu dari tradisi yang sudah beku harus dibuang karena ia bisa menghambat dinamika kehidupan. Tradisi yang tidak pernah dikelola secara kreatif dan kritis sama dengan jalan-jalan di tempat, tidak akan pernah maju kedepan. Sedang waktu terus akan berjalan bersama arus modernitas. Sekelompok manusia yang disebut masyarakat yang memeluk tradisi secara kaku tidak akan bisa menjawab permasalahan-permasalah kehidupan yang nantinya semakin kompleks.
            Saat ini zaman telah memasuki era teknologi dengan segenap tantangan. Masyarakat Madura kini berada dipersimpangan jalan kebudayaan. Antara tradisi dan modernisasi tidak harus terjadi tabrakan yang mengakibatkan bagian penting dari tradisi yang baik turut hancur berantakan. Dalam hal ini perlu dicari jalan keluar dengan proses yang wajar sehingga hasilnya mempunyai manfaat besar.
            Ketika memperingati 50 tahun “Polemik Kebudayaan” pada tanggal 18 – 20 Maret 1986 di Jakarta, banyak tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia yang masih mementingkan nilai-nilai tradisional positif untuk mewarnai dinamika masyarakat Indonesia moderen. Kita lihat Jepang menjadi gagah karena ke akar tradisinya dengan semangat “samurai”nya.
            Menuju “Keindonesiaan” yang makin mantap dan matang serta tegar, yang didasari semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, masyarakat Madura sekarang harus ikut berproses. Di persimpangan jalan kebudayaan orang Madura kini sedang memasuki babakan transisi. Transisi dalam proses transpormasi budaya, meminta perhatian para pemangku kebudayaan dari semua sektor, baik budayawan birokrat, budayawan kampus dan budayawan yang berada di “angin” perlu saling dukung mendukung dengan kesatuan bahasa dan konsepsi. Itu pun harus didukung pula oleh seluruh warga masyarakat sendiri untuk bisa maju.
            Soren Kierkagaard mengatakan bahwa, hidup manusia mempunyai tiga taraf, yaitu: estetis, etis dan religius. Dari sudud estetis manusia Madura masa lampau telah mengungkapkan dirinya dengan aneka ragam bentuk kesenian, sastra, musik, tari, ukir dan lain-lainnya dengan mutu yang baik. Dari sudut kehidupan etis, orang Madura selalu menjaga harga diri, giat bekerja, jujur, reseptif terhadap nilai-nilai positif dari luar, tegas dalam membela kebenaran, hormat kepada orang lain (andap asor) dan solidaritasnya tinggi. Sedangkan dari sudut religius, manusia Madura adalah pecinta agama. Ketiga aspek itu menunjukkan sikap hidup yang menuju kemuliaan.
            Orang Madura, baik yang tinggal di pulau Madura maupun yang ada di perantauan seyogyanya tidak meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah saya uraikan untuk menjamin hidup rukun dan damai. Khusus bagi orang Madura yang ada di rantau, ada nasehat dari orang tua-tua: oreng andhi’ tatakrama reya padha bi’ pesse Singgapur ekabalanja’a e dhimma bai paju (Orang punya budi pekerti baik itu seperti dollar Singapura, akan dibelanjakan di mana saja laku). Karena itu setiap orang Madura seyogyanya tetap mengutamakan budi luhur untuk menjalin persaudaraan dan persahabatan dengan siapa saja dan dengan etnik mana saja.
            Akhirnya, marilah kita terus berpikir dan bekerja. Berpikir, membaca, menulis, berdiskusi dan berseminar. Tapi tidak cukup itu saja. Manusia Madura harus bekerja, terlibat dan turun tangan untuk membentuk peradaban baru.

0 komentar:

Poskan Komentar

katakan kata-katamu